Rabu, 26 Mei 2010

Waisak tiba lagi…..

Waktu bergulir begitu cepat. Tidak terasa, hari Waisak tiba lagi. Sepertinya baru beberapa hari yang lalu kita merayakan hari Waisak. Tahun lalu, saya bersama istri mengisi hari waisak dengan mengikuti Retreat yang dibimbing oleh sister Chan Kong di Sukabumi.

Detik-detik waisak saat itu dilewati dengan penuh kesadaran melalui perhatian akan keluar masuknya nafas. Dari sekian banyaknya waisak yang dilewati, saya sangat merindukan momen waisak tersebut. Dapat merasakan makna waisak sesungguhnya dan menjadikannya sebagai inspirasi untuk mengingat kembali keagungan dan keluhuran nilai-nilai ajaran Buddha untuk semakin dipraktikkan dalam kehidupan.

Waisak di tahun-tahun sebelumnya, lebih banyak diisi dengan euphoria kebanggaan akan kemenangan setelah melewati perseteruan sengit dengan pihak lain yang merasa berwenang menggunakan lokasi puja. Belum lagi kesibukan luar biasa yang timbul karena orang nomor satu di Indonesia akan hadir dalam perayaan Waisak. Ada juga perseteruan kecil di antara sesama sahabat yang sebenarnya mempunyai niat yang baik yaitu untuk suksesnya perayaan Waisak.

Waisak memang penuh dengan fenomena-fenomena yang menarik. Mengamati sebagian umat yang sangat serius bermeditasi pada saat detik waisak dengan memejamkan matanya dengan sekuat tenaga, ada juga yang sedang sibuk menawar barang dagangan yang dijajakan di luar kompleks, sebagian panitia bercucuran keringat melayani para umat yang terlambat tiba di tempat acara, ada yang marah-marah karena terganggu oleh yang lain. Ada yang berebutan untuk mendapatkan air berkah, ada juga yang berusaha mengambil sebanyak-banyaknya air tersebut dengan alasan akan dibawa pulang untuk dibagi kepada para kerabat. Dan masih banyak lagi hal-hal yang menggelikan.

Waisak memang sangat penting bagi umat Buddha, karena memperingati kelahiran dari seorang Pangeran yang kelak akan menjadi guru umat manusia dan para dewa. Yang kedua adalah menjadi sebuah momentum penting pada saat seorang petapa berhasil mencapai kesempurnaan agung, mengatasi segala bentuk kebencian, keserakahan dan ketidaktahuan. Point ketiga adalah parinirvana (Mangkat) Buddha di Kusinagara. Peristiwa agung itu terjadi pada saat bulan purnama di bulan Waisak.

Sudah sepantasnyalah, Waisak dijadikan sebuah momentum untuk membuat sebuah evaluasi diri. Apa saja yang sudah dikerjakan dari waisak lalu sampai dengan sekarang. Apakah ada kemajuan atau justru malah kemunduran? Apakah nilai kehidupan hari ini sudah lebih meningkat dibanding kemarin?. Selain evaluasi diri, jangan lupa untuk mengulang kembali tekad-tekad mulia yang bersemayam di dalam diri supaya lebih semangat lagi dalam berpikir akan kebajikan, berucap kata yang bermanfaat dan lebih responsif dalam bertindak untuk membantu mereka yang membutuhkan.

Sebarkanlah lebih banyak bibit cinta kasih dan kasih sayang sehingga tidak ada tempat bagi kebencian, keserakahan, kemurkaan untuk tumbuh. Ciptakan dunia yang jauh dari penderitaan, melainkan penuh dengan aroma cinta, bunga senyuman dan aluanan kebahagiaan.

Ijinkan saya berdoa untuk anda para sahabatku. Semoga kita dapat menjadi penerang dalam kegelapan, menjadi obat untuk yang sakit, menjadi air bagi yang haus, menjadi solusi untuk masalah. Semoga anda dan keluarga senantiasa sehat, bahagia dan sukses. Dan akhirnya semua semua makhluk hidup berbahagia.

Selamat hari Waisak, Sahabatku !!

Minggu, 25 April 2010

22 tahun yang lalu.....

Pagi hari ini, tergoda untuk menuangkan sedikit kenangan dalam tulisan. Bermula dari chating dengan sahabat lama yang benar-benar lama, hm... maybe kurang lebih 22 tahun sudah berlalu, wauu sebuah angka fantastis untuk sebuah persahabatan (dibaca ternyata udah tua juga yah ). Tidaklah heran karena kami mulai bersahabat sejak kelas I SMA.

Teknologi memang luar biasa, ia berhasil menjadi fasilitas untuk menghubungkan kembali jalinan yang terputus dan mengeratkan tali persahabatan yang mulai longgar. Tanpa disadari melalui facebook, saya berhasil menemukan kembali beberapa sahabat lama yang sudah lama nian tidak pernah berjumpa. Demikian pula melalui yahoo messenger saya bisa ngobrol dengan para sahabat dikala senggang.

Kembali ke chatting dengan sahabat lama saya pada malam itu, kita bercerita ngalor-ngidul sampai dengan sebuah pengalaman pada saat SMA yang benar-benar sudah saya lupakan. Sahabat saya ini luar biasa sekali rekaman memorinya, ia masih ingat secara persis apa saja yang terjadi pada saat itu. Ya, saat itu pastinya, kita masih culun-culunnya dan narsis-narisnya, hehehe. Biasalah efek dari pergantian celana pendek biru menjadi celana abu panjang. Setelah dipaksa berpikir mundur ke belakang oleh sahabatku ini dan saya juga ikutan memeras otak sedemikian rupa tetapi untungnya tidak sia-sia maka akhirnya bayangan itu kembali muncul walaupun samar-samar seperti tayangan kaset video yang hampir rusak. Saya berceletuk kepadanya bahwa ”gue kayak lagi ulangan tesis S2 neh, Yul”

Sadarkah kita bahwa setiap kali menengok ke belakang, seringkali kita sendiri merasa geli akan masa lalu tersebut. Dan muncul pertanyaan, ”kok bisa yah saya kayak gitu” dan ”saya ternyata melakukan perbuatan-perbuatan yang menggelikan”, hehehe.

Banyak kenangan indah maupun penderitaan pada masa lalu. Kala itu, hidup sepertinya tanpa beban, setiap hari dilalui dengan rajin pergi ke sekolah, bermain gitar sambil menyanyi dengan para teman, berkompetisi dalam pertandingan antar kelas, menjadi panitia dan pengisi acara di acara rutin sekolah, terkadang berlibur bersama dengan minum air kelapa batok di pantai maupun makan jagung di puncak, mendapat nasehat dari kepala sekolah yang lucu tapi bijak, dimana sampai hari ini kita bagaikan sahabat lama. Memang benar kata penyanyi lagu lawas yang memang sedang tenar pada saat kita SMA, bung Obbie Messakh dalam lirik lagunya :

Tiada masa paling indah, masa-masa di sekolah
Tiada kisah paling indah, kisah-kasih di sekolah.


Itulah sekelumit kenangan indah semasa SMA, tetapi sepertinya tidaklah lengkap keindahan hidup jika hanya dijamu dengan kenangan indah saja. Kenangan buruk sebenarnya juga banyak menghiasi lembaran kisah SMA. Kita sekelas pernah di strap (dihukum berdiri di siang bolong) karena ada temen iseng nyerocos ”Amin” secara lantang saat mengakhiri doa ketika upacara bendera. Sebenarnya dengan kata ”Amin” saja tidaklah akan membuat kita sekelas dihukum jika teman iseng itu tidak menambahkan embel-embel kata di belakang ”Amin” yang dia bunyikan ”Amin, bapak Alpin” hehehe.

Kebersamaan kita selama tiga tahun di SMA terasa seperti terbang, begitu cepatnya berlalu. Kebahagiaan dan penderitaan saling silih berganti, bagaikan siang berganti malam dan gelap malam juga hilang ketika mentari bersinar kembali pada esok harinya. Begitulah juga dengan perjalanan kehidupan yang tidak selalu bahagia melulu atau menderita abadi. Masa lalu memang penting tetapi tidaklah cukup penting untuk menghalangi jalan saat ini menuju masa depan. Biarlah kebahagiaan masa lalu sebagai kenangan dalam hati untuk menyegarkan dan selalu memotivasi kita untuk tetap berbahagia pada saat ini, esok dan hari-hari ke depan. Begitu juga, biarlah penderitaan atau kesalahan masa lalu menjadi pelajaran dan diambil hikmahnya supaya kita tidak lagi tersandung pada batu-batu yang sama dan mengulanginya di hari ini dan ke depannya.

Kepada seluruh sahabat lamaku, aku ingin engkau tahu bahwa aku sangat bersyukur dan berterima kasih atas segala sesuatu yang pernah kita lalui bersama baik pada masa-masa yang indah maupun masa-masa yang menyedihkan. Begitu juga harapan saya dengan anda.

Semoga semua berkah ada pada anda sahabatku.
Salam bahagia dan sukses selalu.

Selasa, 02 Februari 2010

Sekilas Kisah Lucu di pesta pernikahan sahabat Share

Hari Minggu lalu (31-01-10), saya hadir di resepsi pernikahan salah seorang sahabat, tentunya istri tidak ketinggalan. Adalah sebuah kebahagiaan tersendiri jika hadir dalam resepsi sahabat yang benar-benar sahabat, karena pasti akan bertemu dengan banyak sahabat yang juga hadir disana. Seringkali saya merasa bahwa resepsi pernikahan adalah ajang reuni untuk bertemu dengan para sahabat. Banyak hal yang bisa dilakukan, dimulai dari ngobrol rame-rame dari level sangat ringan berupa basa-basi sampai ke yang serius bahkan sangat serius. Sehingga tidak jarang, ada yang kecipratan bisnis baru akibat hadir dalam ajang reuni bin resepsi pernikahan itu.

Saya sendiri memang agak selektif dalam rangka menghadiri resepsi pernikahan, jika saya merasa kehadiran atau ketidakhadiran saya di tempat itu tidaklah membawa manfaat atau tidak ada dampaknya bagi pasangan yang menikah ataupun orang tua dari pasangan yang berbahagia itu, biasanya saya memilih untuk tidak hadir. Selain menghemat angpau, hehehe. Saya juga merasa makanan di kaki lima sering lebih ok dibanding makanan prasmanan pesta yang begitu-begitu saja yang terkadang membosankan.

Memang terkadang ada beberapa oknum yang benar-benar kebangetan dalam hal undang-mengundang (bahasanya aneh ya). Seringkali ketika sampai di kantor, ada undangan yang sudah tergeletak di meja kerja atau terkadang dititipkan ke teman-teman kantor tanpa jelas identitas. Begitu membaca undangan tersebut, nama ga dikenal, foto pun tidak ada. Sehingga saya harus berpikir keras bak filsuf bahkan sampai menerawang ke alam lain untuk memohon petunjuk, kira-kira undangan siapakah gerangan yang melangsungkan pesta kebahagiaan tersebut. Akhirnya saya menarik kesimpulan bahwa mungkin meja kerja saya yang diundang, jadi silakan saja, meja saya yang menghadiri undangan tersebut, hehehe.

Kembali ke pesta pernikahan sahabat saya yang baru minggu lalu di Prasadha Jinarakkhita tersebut. Ada sebuah peristiwa yang sangat menggelikan dimana saya juga sangat yakin, pembuat kelucuan itu tidak akan sadar akan kelucuan yang disebabkannya sampai ia membaca tulisan singkat ini. Seperti biasanya, dalam pesta pernikahan pastilah terdapat acara Mingles dimana pasangan yang berbahagia itu turun dari singgasananya untuk memberikan kesempatan kepada rakyat jelata memberikan ucapan selamat kepadanya. Saya langsung dihinggapi rasa bersalah, karena begitu tiba di tempat acara, saya lebih sibuk ngobrol dan bersapa ria dengan para sahabat daripada menyalami pasangan raja dan ratu sehari itu, juga terlalu sibuk meng-hunting pojok-pojok dimana makanan lezat bersembunyi. Saya pun buru-buru mendatangi sahabat tersebut dan menyalaminya. Saya mengucapkan selamat berbahagia kepadanya beserta istrinya. Di luar dugaan saya, pada saat kami bersalaman, ia mengatakan “Her, ini istri saya” kata-kata singkat itu langsung menyengat saya, apakah ia lupa, ini adalah pesta pernikahannya dan apakah ia lupa bahwa saat itu mereka sedang mengenakan pakaian kebesarannya. Atau benar-benar ia ingin memperkenalkan istrinya kepada saya pada saat itu. Kata Rick Price, Only heaven know……

Begitulah sebuah selipan cerita dan hiburan pada pesta pernikahan sahabat tersebut.
Saya tidak akan berdoa supaya tidak ada masalah hadir dalam kehidupan sahabatku (jahat yah) tetapi isi doa saya akan berbunyi sebagai berikut : Semoga anda berdua mempunyai kekuatan untuk dapat menghadapi segala masalah dan tantangan dalam mengarungi samudra kehidupan yang baru saja dikomitmenkan berdua baik di hadapan orang tua, para sahabat dan yang paling penting adalah di hadapan para Buddha dan Bodhisatwa.

Semoga semua berkah ada pada anda, sahabatku.

Selasa, 26 Januari 2010

Peduli


Sepertinya layaknya seorang manusia, tidak satupun yang bebas dari serangan penyakit, begitu juga dengan biku. Sama halnya pada saat Buddha masih membabarkan Dharma di dunia, terdapatlah seorang biku yang terserang penyakit disentri dan berbaring lemah ditempat yang telah dihamburi tinjanya sendiri.

Buddha dan Ananda menjenguk bhikkhu tersebut, seraya bertanya:

Buddha : Bhikkhu, apa yang terjadi padamu?

Biku sakit : Saya menderita disentri.

Buddha : Apa tidak ada yang merawatmu?

Biku sakit : Tidak ada, Bhante

Buddha : Kenapa para bhikkhu tidak merawatmu?

Biku sakit : Karena saya tak berguna lagi bagi mereka, Bhante

Lalu, Buddha berseru pada Ananda: "Pergi dan ambillah air. Kita akan memandikan biku ini."

Ananda mengambil air, sementara Buddha menuang air, Ananda mencuci seluruh badan biku itu. Dengan mengangkat kepala dan kakinya, Buddha dan Ananda membaringkannya kembali ke pembaringannya.


Kemudian, Buddha memanggil seluruh biku dan bertanya pada mereka:

Buddha : Mengapa, wahai para biku, engkau tidak merawat biku sakit itu?

Para Biku : Sebab sudah tidak berguna bagi kita, Yang Mulia.

Buddha : Kamu sekalian tidak mempunyai ayah dan ibu lagi yang akan merawatmu. Bila kamu sekalian tidak saling merawat, siapa yang akan melakukannya?


Buddha : "SIAPA YANG INGIN MERAWAT DAKU, HENDAKNYA MERAWAT PULA MEREKA YANG SAKIT"

Cerita singkat diatas sepertinya sudah sering sekali kita dengar, Buddha menyebut dirinya sendiri dengan sebutan Anuttaro Bhisako yang berarti "dokter yang baik". Bukan hanya rohani yang disembuhkan oleh Buddha dengan obat Dharma yang sangat mujarab tetapi Bhagawa juga adalah seorang dokter yang piawai dan perawat untuk mereka yang sakit secara fisik. Dalam sutra, dapat banyak ditemukan bahwa Bhagawa mengunjungi mereka yang sakit, merawatnya dan yang terpenting adalah menyembuhkan mereka.

Sering kali kita dalam kehidupan ini, jika seseorang diminta untuk merawat dan menjaga orang “penting” akan terdapat banyak sekali sukarelawan-sukarelawan yang bermunculan dan secara iklas untuk merawatnya. Tetapi bagaimana jika perawatan yang dimaksud adalah untuk orang yang tidak mampu dan tidak penting. Sangatlah susah untuk mencari sukarelawan dimaksud. Padahal Buddha sudah sangat sering memberikan contoh langsung untuk langsung turun tangan sendiri untuk mempraktekkan ajarannya bukan hanya sekedar teori yang indah dalam tataran konsep dan wacana.

Sahabatku yang berbahagia,

Memang mempraktekkan satu saja ajaran mulia jauh lebih baik dibandingkan dengan sekedar menghafal seluruh kitab. Memang tidak mudah untuk melaksanakan ajaran tetapi ijinkan saya untuk berbagi beberapa tips yang memudahkan yaitu :

1. Mulailah dari hal yang kecil

2. Mulailah dari diri sendiri

3. Mulailah sekarang juga

Segalanya harus dimulai dari yang kecil, dari diri sendiri dan saat ini juga. Sangatlah sulit untuk melakukan sesuatu hal yang besar seperti merawat orang sakit, membangun wihara, memberikan beasiswa kepada yang kurang mampu atau yang lainnya karena memang membutuhkan biaya dan perhatian yang besar juga, dimana tidak semua dari kita mempunyai kemampuan financial seperti itu. Tetapi semua itu janganlah menjadi alasan apalagi pembenaran bagi kita untuk tidak melakukan kebaikan. Jika kita mau lebih jeli sedikit, ternyata semua dari kita mempunyai harta karun seperti mempunyai hati yang mulia, pikiran yang positif, ucapan yang memotivasi, perbuatan yang baik dan juga senyuman yang menawan. Semua dari kita pasti punya kelima harta diatas. Bukankah demikian? Tinggal bagaimana kita membagikannya kepada yang lain. Kelima harta diatas dapat bermunculan untuk menghiasi dan mewarnai hidup jika dimulai dengan PEDULI. Dimulai dengan Peduli kepada diri sendiri, keluarga, lingkungan, organisasi dan meluas kepada yang membutuhkan. Memang, pada saat kita mulai peduli kepada yang lain, ada saja orang lain yang akan berbicara miring tetapi tetaplah peduli.

Sahabatku yang berbahagia,

Marilah kita mulai peduli kepada hal-hal yang kecil dan saat ini juga. Segera ulurkan tangan jika ada yang membutuhkan bantuan. Ringankan langkah untuk mengunjungi sahabat yang sedang kesusahan, siapkan shoulder to cry bagi yang mereka. Ada satu pepatah yang sangat menarik untuk menutup tulisan ini. “Mungkin orang akan lupa akan apa yang telah kita katakan, mungkin orang akan lupa apa yang telah kita lakukan, tetapi orang tidak akan lupa momentum saat ia menemukan bahwa hidupnya sangat berarti.”

Sahabatku, mari kita mulai Peduli

The most convenience public transportation system country

Melihat judulnya saja, saya yakin beberapa diantara kita sudah tahu negara mana yang dimaksud. Ya negara imut bin kecil, Singapura. Negara yang merdeka pada tahun 1965 yang menjadi kebanggaan dari Mr. Lee Kuan Yu dengan Merlion sebagai iconnya.

Akhir tahun 2009, tepatnya sehari sebelum hari natal, saya beserta istri mengadakan perjalanan ke Negara yang hanya setitik dalam peta yaitu Singapura. Sampai di tujuan masih sekitar jam 9 an waktu setempat. Sempat bingung waktu keluar dari pesawat, karena tidak banyak petunjuk dan akhirnya kita mengambil jalan ke kanan untuk keluar tetapi ternyata itu adalah jalan menuju ke terminal 1. sampai di tempat pengambilan bagasi. Yang ditunggu-tunggu tidak kunjung muncul, ternyata setelah ditanya-tanya, harusnya kita keluar dari terminal 2. ya sudah deh, terpaksa berjalan menuju ke terminal 2.

Begitu sampai di singapura, kita sudah merasakan kemudahan dan kenyamanan dalam menggunakan transportasi umum, dari terminal disediakan semacam van yang harganya sekitar S$ 9 per orang yang berangkat setiap setengah jam untuk mengantar tamu ke hotel di seluruh Singapura.

Kita menginap di Peninsula Hotel di daerah City Hall, lokasinya cukup strategis dan yang sangat menyenangkan adalah terminal City Hall yang merupakan terminal exchange berjarak 3 menit berjalan kaki.

Menurut saya, sistem transportasi umum di Negara ini adalah yang ternyaman dan sangat user friendly. Cukup membeli sebuah kartu di loket yang ada di terminal MRT. Namanya Ezlink. Kartu sakti yang dapat diisi ulang dan di refund selain dapat digunakan untuk membayar MRT juga dapat digunakan sebagai alat pembayaran bis. Ada 4 jalur MRT yang sangat membantu untuk menjelajahi negeri imut ini. Mudah membedakannya kok, dibagi menjadi 4 jalur utama dengan 4 warna juga yaitu merah, hijau, orange dan ungu. Seperti cerita diatas, terdapat beberapa exchange terminal. City Hall merupakan salah satunya exhange terminal merah dengan hijau. Misalkan jika dari City hall ingin mengunjungi Bugis Street yang sangat terkenal dengan jajanan pasarnya maka berhenti di terminal MRT Bugis dengan jurusan Pasir Ris (Warna Hijau). Jika ingin melihat kemilau Orchard yang terkenal seantero jagat, maka MRT Merah dengan Jurusan Jurong East yang mengantarkan ke MRT Orchard, jika ke daerah Gu Chia Cui ( air dari kereta lembu ) atau yang lebih terkenal dengan China Town menggunakan MRT warna Ungu. Begitu juga jika ingin ke pelabuhan internasional Singapura, Harbour Front.

Sebenarnya tidak ada yang terlalu menarik dari Singapura, sebenarnya kami juga sekedar transit disini untuk melanjutkan perjalanan ke Port Klang dan Phuket dengan menggunakan kapal pesiar mewah Royal Carribean International. Awalnya saya agak heran dan dalam hati selalu mempunyai banyak pertanyaan, mengapa banyak kapal pesiar itu bersandar di pelabuhan Singapura dan tidak bersandar di Pelabuhan Tanjung Priuk misalnya atau mengapa orang lebih memilih Singapura di banding Jakarta dan mengapa menjadi warga Singapura lebih dibanggakan dibandingkan sebagai WNI.

Seeing is believing, memang setelah beberapa hari di Singapura, pertanyaan saya semakin banyak terjawab. Kebetulan sekali sewaktu saya naik bis dalam kota menuju ke City Hall, saya bertemu dengan seorang bapak, mantan warga Indonesia kelahiran Medan yang telah tinggal di Singapura selama kurang lebih 30 tahun. Saya senang sekali karena bisa ngobrol dengan beliau apalagi beliau itu kelahiran Medan. Dari awalnya kita berkomunikasi dengan bahasa Inggris langsung switch menjadi bahasa Hokien. Beliau bertanya bagaimana kondisi Indonesia, kondisi Jakarta dan Medan. Saya mengatakan kepada beliau bahwa Indonesia sekarang sudah jauh lebih baik di bandingkan masa lalu. Dan sebelum saya turun bis, saya bertanya kepadanya : “Acek (paman) kapan main-main ke Indonesia” dia menjawab : “di Indonesia sudah tidak ada rumah dan kendaraan lagi sehingga akan susah jika mau kemana-mana. Tidak seperti disini (Sin) saya nyaman naik bis dan MRT kemana-mana”. Akhirnya kita berpisah dengan lambaian tangan ketika kami sudah berada di luar bis.

Percakapan singkat ini, menjadi salah satu jawaban atas kebingungan saya. Kemudahan transportasi di Singapura memang luar biasa. Bayangkan saja, terakhir kali saya ke singapura mungkin sekitar sepuluh tahun yang lalu. Banyak sekali perubahan yang luar biasa disana. Tetapi kami sebagai turis yang sangat asing akan negara ini saja sudah berani berkelana kemana-mana dengan menggunakan sarana transportasi umum. Di negara sendiri aja, belum tentu berani naik angkot ke Tanjung Priuk, sungguh menyedihkan

Perjalanan kali ini cukup beruntung karena tidak sengaja kita melihat poster tentang pameran relik yang di selenggarakan oleh salah satu organisasi Buddhis Singapura di Suntec City, mulai jam 9 pagi sampai dengan sore. Mampir sejenak ke Wealth Fountain, yang konon katanya merupakan tempat dengan Feng Sui terbaik. Setelah itu kita naik ke lantai 6, waduh, ternyata antrian sudah seperti ular, katanya mereka jam 8 sudah mulai antri. Luar biasa. Relik yang dipamerkan cukup banyak mulai dari yang halus sampai tulang-tulang yang cukup besar.

Beberapa hal yang agak menyebalkan di Singapura yaitu terdapat banyak orang yang cuek dan selalu menjawab tidak tahu, ada pengalaman menarik, pada saat kita agak bingung akan lokasi dimana kita berada, kemudian istri ingin bertanya kepada seorang wanita. Baru istri bilang excuse me, dia sudah menjawab tidak tahu. Benar-benar luar biasa, hehehe. Awalnya sih sebel juga yah, eh tetapi setelah dibegituin beberapa kali yah jadi terbiasa juga, hehehe. Begitu juga dengan penggunaan uang disana, sangat tidak nyaman, karena berasa murah tetapi sesungguhnya sangat mahal. Air mineral 1500 ml cuman S$ 2,5 tetapi jika di rupiahkan adalah 17.500 sudah bisa membeli beberapa botol air mineral di Indonesia.

Saya berpikir, pejabat terkait dan berwewenang Indonesia seharusnya berkunjung ke Singapura, bukan untuk mengagumi keindahan Singapura tetapi belajar bagaimana tata kota dan pengelolaan sistem transportasi umum itu untuk dapat diterapkan di Indonesia. Kayaknya ga ada salahnya dan tidak perlu malu kok belajar dari kelebihan orang lain. Saya bermimpi suatu hari di Indonesia juga memiliki kemudahan dan kenyamanan bertranportasi umum seperti di Singapura. Bagaimanapun juga, terlepas dari banyak kekurangannya, Indonesia masih sangat nyaman bagiku. I love you Indonesia.

Rabu, 21 Oktober 2009

Persepsi : Menyesatkan atau Mencerahkan



Sebelum mulai, coba liat gambar disamping. Menurut anda foto apa yah?? Silakan jawab sendiri (minimal ada 2 jawaban)


Semua jawaban anda adalah benar dan tidak ada yang salah. Tetapi mana yang paling benar??? Yang paling benar adalah yang mana yang anda persepsikan dalam pikiran.


Persepsi selalu menjadi cikal bakal keributan yang muncul. Jika persepsi ditambah dengan keegoisan manusia maka lengkaplah sebab-sebab munculnya masalah. Saya membaca sebuah cerita menarik yang diyakini sebagai sebuah kisah nyata di Tuan Trong, Vietnam dari buku yang di tulis oleh master Thich Nhat Hanh sebagai berikut :


Cerita ini terjadi pada jaman perperangan di Vietnam. Tersebutlah terdapat sepasang pemuda pemudi yang sedang dimabuk asmara yang akhirnya memutuskan untuk menikah. Singkat cerita mereka pun menikah dengan sangat sederhana dan hanya disaksikan oleh bumi dan langit. Belum lama menikmati kebahagiaan rumah tangga, pemuda ini terpanggil untuk ikut berperang sebagai prajurit dalam membela negara. mereka menangis semalaman karena si istri sangat berat melepaskan suami tercintanya untuk ikut perang apalagi saat ini beliau sedang hamil muda. Kita tahu, berangkat perang adalah jauh lebih mudah dibandingkan dengan kembali dari perang. Banyak yang berangkat dengan utuh dan tidak pernah kembali lagi. Kalaupun kembali, organ-organ tubuh banyak yang tidak utuh dan tidak lagi berada di tempat yang seharusnya. Apa boleh buat, walaupun berat, istri tetap harus merelakan suaminya untuk berperang. Suami pergi dengan iringan lautan air mata dan berbekal doa-doa keselamatan istri.


Beberapa tahun kemudian, perang telah usai, semua prajurit diijinkan kembali ke kampung halamannya. Sang istri pun mendapat berita baik itu, bersama dengan teman-teman kampungnya ia berbaris di jalan masuk menuju kampung dengan membawa seorang anak kecil. Menunggu dengan hati yang tidak karuan dan tidak sabar, akhirnya para prajurit tiba juga ke kampung halamannya. Sambil melihat-lihat dalam keramaian, akhirnya dia dapat melihat suami berada dalam barisan prajurit tersebut dan masih dalam kondisi utuh. Walaupun lusuh tetapi masih seganteng sewaktu mereka menikah. Suami pun melihat istrinya, mereka pun melepas kerinduan yang begitu mendalam dengan berpelukan. Suami juga melihat anak kecil yang dibawa oleh istrinya dan yakin bahwa anak itu adalah buah cinta mereka.


Mereka pun segera kembali ke rumah, setelah sampai di rumah, suami meminta kepada istrinya untuk mempersiapkan alat-alat dan sajian-sajian untuk sembahyang. Ia ingin berterimakasih kepada para Buddha dan Bodhisatwa karena telah dilindungi selama berperang sehingga dapat kembali ke rumah. Kemudian istri berangkat ke pasar untuk membeli buah-buahan, kue dan makanan. Anak kecilnya ditinggal bersama dengan suaminya. Pada saat, istrinya berangkat ke pasar. Sang Suami begitu kangen kepada anaknya, sehingga ingin segera memeluknya dan merayunya untuk memanggilnya ayah. Tetapi anak kecil itu tidak mau memanggilnya dengan sebutan ayah malah mengatakan dia bukan ayahnya. Sangat wajar, anak kecil tidak bisa menerima orang asing yang belum pernah dilihatnya. Suami tidak menyerah dan terus merayu anak kecil itu untuk memanggilnya ayah, tetapi anak kecil itu tetap mengatakan kalau ia bukanlah ayahnya. Akhirnya dengan kesal, sang suami bertanya kepada anak kecil itu, kalau saya bukan ayahmu, siapa ayahmu??. Diluar dugaannya, anak kecil itu menjawab ”Ayah saya hanya datang malam hari, ia menemani ibu sampai malam, ayah dan ibu bercakap-cakap sampai malam. Jika ibu duduk, maka ayah juga duduk. Jika ibu tidur, ayah juga tidur”. Mendengar jawaban itu, suami marah sekali karena merasa istrinya tidak setia lagi dan selingkuh dengan pria lain.


Ketika istrinya pulang dari pasar, suaminya diam saja dan tidak menghiraukan istrinya. Ia mempersiapkan sendiri meja sembahyangnya dan melarang istrinya untuk ikut sembahyang bersamanya. Istrinya bingung dan bertanya kepada sang suami, apa yang terjadi, mengapa kau melarang saya untuk ikut sembahyang bersamanya. Tetapi suaminya diam saja. Makan dalam diam, tidur dalam diam. Istrinya menjadi stress dan dia juga diam saja. Keesokan harinya, suami juga masih marah kepada istrinya dan mendiamkan istrinya. Beberapa hari kemudian, sang istri menjadi depresi dan membunuh dirinya dengan melompat ke sungai.


Sang suami masih merasa biasa-biasa saja karena merasa tidak menjadi masalah besar toh dia sudah selingkuh dengan pria lain. Dia masih tetap tinggal bersama anaknya. Suatu ketika, ia membereskan barang-barang yang tergeletak di lantai kamar, ia menemukan sebuah lampu teplok, begitu melihat lampu itu, anaknya langsung berkata “ayah sudah datang”. Lelaki itu menjadi bingung dan melihat kesana kemari dan tidak melihat siapa-siapa. Kemudian ia bertanya kepada anaknya “dimana ayah?” si anak menunjuk ke lampu teplok itu. Sang ayah sangat bingung dan kemudian ia pergi ke tetangga untuk bertanya banyak hal tentang istrinya, tetangganya bercerita bahwa anaknya itu selalu bertanya tentang ayahnya. Sampai suatu saat, sang ibu tidak tahan lagi didesak maka ia mengatakan bahwa ayahnya akan datang malam itu. Dan anak pun menunggu dengan sabarnya sampai malam hari. Malam pun datang menjemput. Sesuai janjinya kepada anaknya maka ia pun menghadirkan ayah sang anak dengan menyalakan api pada lampu teplok itu. Dan hadirlah sang ayah yang ditunggu-tunggu. Ibunya bercakap-cakap dengan ayahnya dalam lagu penuh duka derita dengan lirik penantian yang tidak kunjung habis. Sewaktu dia duduk, sang suami pun duduk, pada saat ia tidur, sang suami pun tidur. Lemas seketika seluruh badannya dan bagaikan disambar petir di siang bolong. Ia baru sadar seketika bahwa yang dimaksud ayah oleh anaknya adalah bayangan dari ibunya yang ditimbulkan oleh lampu teplok ini.


Mari kita ambil hikmah dan pesan yang ingin disampaikan dari cerita diatas, persepi yang dilengkapi dengan ego dan keras kepala sebagai ladang yang sangat subur untuk tumbuhnya penderitaan. Tidak semua orang mendapat kesempatan untuk memutar balik film kehidupan yang telah dilaluinya. Berhati-hatilah dengan persepsi anda.


Bahagia dan Sukses Selalu,

herusuhermanlim@yahoo.com

Selasa, 20 Oktober 2009

Shanghai, the city of light



Liburan lebaran 2009 kemarin, saya dan keluarga mempunyai kesempatan baik mengunjungi China, walaupun beli tiketnya sudah dari jauh-jauh hari, biasalah untuk mendapat harga seat semurah mungkin, hehehe. Kita memilih mendarat di shanghai setelah transit di Kuala Lumpur dan pulang dari Guilin. Awalnya sih biasa-biasa aja, karena merasa waktu masih lama sehingga tidak terlalu pusing pikirin rute tournya, begitu dapat tiket murah, langsung sikat, khan ingat ajaran “speed is power” hehehe. Begitu dekat dengan lebaran, ketegangan dan stress mulai terasa. Ternyata tidak semudah yang dipikirkan, awalnya rute kita adalah mendarat di Shanghai kemudian mengunjungi Beijing untuk melihat kebesaran Great Wall lambang negara tirai bambu. Setelah itu barulah turun ke Guilin sebelum pulang ke tanah air melalui Kuala Lumpur. Ternyata setelah meminta teman-temen untuk menghitung biaya perjalanan lokal beserta segala akomodasinya, eh kok harganya sama aja dengan kita ikut tour dari Jakarta. Weleh weleh, mau murah kok malah jadinya sama biayanya plus repot lagi. Hehehe. Akhirnya kita diselamatkan oleh sahabat baik istri yang kebetulan sedang jalan-jalan di Shanghai juga. Memang berkah sering hadir tanpa diketahui. Akhirnya kita mengikuti jejak sahabat tersebut yaitu berkunjung ke Jui Zhai Gou. Pucuk di cinta, nasi ulam tiba, eh maksudnya ulam tiba, hehehe. (Nulisnya sambil nunggu makanan neh jadi munculnya nasi ulam.) akhirnya kita pun sepakat berangkat ke Jiu Zhai Gou yang sangat indah dan menawan. Cerita Jiu Zhai Gou akan dibahas dengan tulisan yang berdiri sendiri.

Kembali ke Shanghai,
Kita mendarat di Shanghai pagi hari, karena terbang dari Kuala Lumpur sekitar jam 1 pagi, enak juga sih, begitu nyampe Shanghai matahari sudah muncul seiring dengan cerahnya langit. Kita langsung mengcharter taxi untuk segera meninggalkan bandara Pu Tong menuju ke hotel yang letaknya di tengah kota dan tidak jauh dari Nanjing Road, surga idaman para wanita. Anda sudah tahu khan tempat apa itu, hehehe. Setelah menerima kebaikan hati dari petugas hotel, karena dikasih check in di kamar lebih cepat dari seharusnya. Kita pun jalan kaki menuju Nanjing Road, disana banyak toko-toko yang menjual barang-barang dari yang branded sampai yang biasa aja, saya ga tau itu beneran branded atau bajakan, dimaklumi aja yah. Kita sempat makan makanan kecil disana, bakpaunya enak banget harganya juga murah, ada juga seperti sate dan lain-lain, berdiri saja di pinggir jalan sambil makan. Abis itu baru makan siang di sebuah restoran yang katanya terkenal dengan “xiao long bao” (bakpao kecil yang isinya daging dan ada kaldu di dalamnya). Tapi jujur aja neh, kurang enak sich, hehehe, may be kurang cocok ama orang Indo.

Sehabis mengisi perut, kita mengunjungi kuil Jade Buddha temple dengan taksi, sebuah kuil yang indah yang sangat terkenal dengan patung Buddha yang terbuat dari Jade (Batu Giok). Selain Jade Buddha, disini juga terdapat cukup banyak patung Buddha, Bodhisatwa dan para Dewa pelindung dunia. Saya mengamati bahwa orang China mempunyai budaya bersembahyang yang agak berbeda dengan di Indonesia. Mereka menggunakan hio yang cukup besar dan banyak. Setelah memanjatkan doa, mereka melempar ke dalam tungku yang sedang terbakar dan membiarkan hionya terbakar. Buat informasi aja ya, di China masuk wihara harus bayar lho.

Setelah sembahyang di Jade Buddha temple, kita mengunjungi Yu Yuan Garden (saya tidak tahu artinya). Kalau tidak salah artinya adalah Taman milik orang bermarga Yu. Tempat ini dulunya adalah rumah dari seorang konglomerat yang hidup pada jamannya. Walaupun sudah sangat tua, tetapi keindahan dan kemewahan rumah ini masih tetap memancar. Setelah memasuki halaman rumah, terdapat semacam gapura. Sebenarnya bukan gapura yang seperti kita lihat di Indonesia, tetapi lebih seperti yang sering kita lihat dalam film silat, sebuah tembok pembatas dengan lubang ditengahnya untuk dilewati. Di atas gapura itu terdapat 2 ekor naga hitam, saya dan keluarga nebeng denger penjelasan dari tour guide rombongan lain bahwa 2 ekor naga itu sangat unik karena hanya memiliki 3 cakar pada setiap kakinya, pada umumnya naga memiliki 5 cakar. Mengapa demikian? Menurut beliau, pada jaman dulu, yang boleh menggunakan naga hanyalah kaisar China. Sehingga dibuatlah naga dengan 3 cakar supaya tidak sama dengan naga yang dipunyai oleh kaisar China. Menarik juga yah. Di rumah ini banyak batu-batu indah dan bentuknya antik. Penataan ruangan dengan pohon-pohon maupun kolam sangat pas, serasa waktu berhenti jika duduk di taman ini. Pokoknya top abis deh rumah ini, dan wajib dikunjungi.

Tidak berasa matahari sudah selesai bertugas di China dan mendapat jadwal untuk bertugas di wilayah barat Bumi. Kita pun keluar dari Yu Yuan Garden itu dan menyusuri sepanjang jalan yang sangat ramai oleh penjual sovenir-sovenir. Banyak sekali, sovenir berupa baju, hiasan, gantungan kunci dan masih banyak hal lagi, semuanya indah-indah, kita membeli beberapa gantungan kunci panda disana, eh sahabat, ingat nawar yah, harganya bisa setengah tuh. Terakhir kita melihat kok ada antrian yang sangat panjang disalah satu sudut gang, tertarik ingin tahu, kita juga mendatanginya untuk melihat ada apa gerangan. Ternyata semuanya sedang mengantri xiao long bao. Konon kabarnya Restoran bintang lima Nan Xiang yang ada di Indonesia merupakan cabang dari tempat ini. Ramainya luar biasa, saya pun bagi tugas dengan istri, saya bertugas mencari tempat duduk di restoran dan istri ikut mengantri. Apa mau dikata, saya keliling-keliling restoran tersebut untuk mencari tempat duduk tetapi hasilnya nihil. Setelah berjuang dengan kesabaran, akhirnya kita mendapat juga xiao long bao legendaris ini dan makan di pendopo di pinggir danau dengan latar belakang 2 bangunan tertinggi di Shanghai, Gedung Jing Mao dan Oriental Pearl Tower (Dong fang Ming zhu ta)

Setelah mandi di hotel, kita berjalan lagi ke Nanjing Road dengan tujuan ke Pearl Tower menggunakan MRT. Sempat bertanya-tanya dengan orang yang ada disana bagaimana naik MRT dari mana, akhirnya ketemu juga MRT yang menuju ke Pearl Tower. Suasana Nanjing Road pada malam hari sangat berbeda dengan siang hari. Sangat menakjubkan. Lampu terang benderang membanjiri sepanjang jalan itu. Ternyata slogan : Shanghai, City of light of Asia ga salah juga, kita tahu kalau julukan The City of Light dipegang oleh Kota Paris. Paris dengan menara Eifellnya, di Shanghai juga tidak kalah dengan Pearl Towernya yang lebih tinggi dibanding dengan Eifell. Oriental Pearl Tower merupakan bangunan tertinggi ke 3 di dunia. Yang tertinggi adalah CN Tower di Toronto, Kanada sedangkan yang kedua adalah Ostankino Tower di Moscow. Saya jadi ingat dengan tugu kebanggaan di Indonesia yaitu Monumen Nasional setinggi 132 meter yang tidak tahu menduduki urutan ke berapa di dunia. Semoga suatu hari, Indonesia mempunyai bangunan yang dapat dibanggakan di dunia internasional.

Pearl Tower setinggi 468 meter terdiri dari 3 bagian. Bagian paling bawah, bagian kedua adalah bagian bowl (buletan) pertama dan bagian ketiga adalah bowl (buletan) kedua. Bagian paling bawah ini terdapat museum luas sekali yang mayoritas dipenuhi oleh patung lilin yang juga tidak kalah dengan yang ada di museum lilin legendaris di London yaitu Madame Tussads. Museum membawa kita kembali ke masa shanghai kuno lengkap dengan budaya dan profesi-profesi warga masyarakatnya.

Naik ke bowl pertama, saya tidak ingat persis berapa tingginya, yang pasti 200an meter, terdapat banyak jendela pengamatan, indah sekali. Disana terlihat old shanghai, atau yang dikenal dengan shanghai than (shanghai bund). Dimana bangunannya masih dalam model klasik. Dihiasi lampu yang luar biasa indahnya. Turun menggunakan tangga dimana terdapat ruangan outdoor yang lantainya dibuat dari kaca, sehingga dapat melihat langsung ke bawah. Saya tidak berani berdiri disitu sehingga tidak bisa bercerita banyak. Saat ini, saat mengetik tulisan ini, membayangkannya kembali saja sudah membuat tangan saya dingin. Hehehe
Bowl ke dua, ruangan paling tinggi, katanya terdapat restoran diatas, tetapi kita tidak naik keatas karena biayanya cukup mahal. So ceritanya sampai disini saja.

Mantra Bodhisatwa Tara

Bodhisatwa Tara  "om tare tuttare ture soha" Bodhisatwa Tara, yang pada mulanya berasal dari air mata yang diteteskan oleh Bodh...