Rabu, 21 November 2018

Dochula Pass


Dochula Pass

Tidak pernah kehabisan stok kekaguman kepada negara imut ini.  Memang tidak salah jika dunia menganugerahinya sebagai negara paling bahagia di dunia.  Hari ini, kami mengunjungi Punakha dari Thimphu dan pastilah melewati pintu gerbang kedua kota itu yaitu Dochula Pass. Sebagaimana di Bogor yang memiliki Puncak Pass, Bhutan memiliki Dochula Pass.  Pass adalah sebuah tempat dengan ketinggian 3.100 mdpl yang diyakini paling tinggi di bagian timur Bhutan sehingga dapat menikmati sajian hamparan pemandangan pegunungan Himalaya yang bersalju abadi dengan bebas.  

Angin di Dochula Pass cukup kencang dan dingin.  Di sana ada sebuah kafe yang menyajikan teh, kopi hangat dan biscuit untuk menemani para tamu menikmati keindahan 108 chorten (stupa) berselimut kabut dan dingin.  Cafe ini sangat nyaman dan lengkap dengan perapiannya.  Pelayan berpakaian Gho dan Kira sangat sigap melayani tamu-tamunya.  Tempat ini juga menjadi tempat toilet-stop bagi banyak orang walaupun tertulis hanya untuk tamu cafe. 




108 chorten (stupa) itu dibuat sebagai penghormatan kepada 108 tentara Bhutan yang gugur ketika berperang melawan invasi India. 1 chorten stupa induk di atas dan dikelilingi oleh 107 stupa lainnya terbagi menjadi 3 lapisan lingkaran dengan model stupa yang seragam, berdinding putih, beratap coklat dengan mahkota emas di puncaknya. Mampirlah sejenak untuk memberikan penghormatan kepada para tentara ini. 

Minggu, 04 November 2018

Kuzoozangpo La


Kuzoozangpo La
HSL with Gho
Salam khas Bhutan dalam Bahasa Dzongkha yang berarti Ni hao dalam Bahasa Mandarin atau Annyong Haseo dalam Bahasa Korea dan Salam atau Halo dalam Bahasa Indonesia.  Salam ini dapat diucapkan kapan saja tanpa batasan waktu.


Donderma Buddha
Waktu Bhutan lebih lambat 1 jam 15 menit dari waktu Jakarta.  Pagi ini, hari kedua di Bhutan beberapa dari kami sepakat untuk jalan pagi sebelum sarapan.  Jam 6, kami pun mulai melangkah menembus dinginnya udara pagi dan menuju kearah suara genta yang sudah berbunyi sejak jam 5, ternyata terdapat sebuah Lhakhang (wihara) yang sudah mulai sibuk.  Aktivitas sudah tampak walau langit belum terang sekali.  Para Lama (biksu) sudah mulai memanjatkan mantra-mantra dengan iringan tambur dan para umat memutar roda doa (prayer wheel) dengan sadar penuh.  Roda Doa berbentuk silinder atau tabung yang di bagian luar dan dalamnya terdapat tulisan mantra Om Mani Padme Hum. Konsep dari pemutaran roda doa ini adalah manifestasi fisik dari pemutaran roda Dharma.   
Prayer Wheel 
Umat Tantra atau Vajrayana menyakini roda doa dapat digunakan untuk mengumpulkan kebajikan, kebijaksaaan dan dapat memimalisir energy negatif.  Senada dengan yang disampaikan oleh Zopa Rimpoche yaitu “
a prayer wheel has the capacity to completely transform a place, which becomes ...peaceful, pleasant, and conducive to the mind. Simply touching a prayer wheel is said to bring great purification to negative karmas and obscurations. 

Little Lama
Di wihara ini kami bertemu dengan lama-lama cilik berjubah merah dan sahabat kami berkesempatan berdana peralatan belajar seperti pensil, penghapus dan rautan.  Mereka menerimanya dengan malu-malu dan kami mengajak mereka untuk foto bersama.


Donderma Buddha
Setelah sarapan, kami check out dari Best Thimphu Hotel dan menuju Donderma Buddha.  Secara harafiah, Donderma artinya Destructible atau tak dapat dihancurkan dan Buddha merujuk kepada manusia tercerahkan.  Sehingga Donderma Buddha dapat diartikan Buddha yang tak dapat dihancurkan atau dirusak.  Mayoritas penduduk Bhutan beragama Buddha dan sangat patuh dengan ajarannya.  Donderma Buddha terletak di atas bukit dengan jalan berkelok dan berliku tibalah kita di TKP.  Disambut oleh gapura indah dan Chorten (stupa).  Buddha Rupang ini sangat besar dengan tinggi 169 kaki disebut sebagai yang terbesar di dunia.  (sebenarnya saya merasa Tian Tan Buddha di Hongkong lebih besar).  Terbuat dari perunggu dilapisi emas menghadap ke timur dengan mudra bhumisparsha (bumi menjadi saksi).  Persis di bawah Buddha rupang ini terdapat ruangan Dharmasala yang cukup besar dengan ChenRezig, Avalokitesvara bermuka empat sebagai obyek pemujaan dan Buddha Rupang kecil sebanyak 125.000 buah mengelilingi dindingnya.  Dharmasala indah sekali dengan lukisan-lukisan di dinding dan mandala di langit-langit.  Di Bhutan dilarang mengambil foto atau video di dalam Wihara. 



Tashichho (Thimphu) Dzong
Dzong adalah sebutan untuk gedung besar dengan alun-alun luas tempat berlangsungnya acara kenegaraan dan upacara keagamaan. Kompleks pemerintahan ini dibuka untuk umum pada masa festival dan menjadi kediaman raja dan ratu Bhutan.

Tiap akhir September hingga awal Oktober, di sini berlangsung Thimphu Festival atau dikenal juga sebagai Thimphu Dzong. Festival ini merupakan perayaan tahunan. Semua warga, tua muda, berkumpul di alun- alun Dzong, menikmati tari-tarian sakral yang dibawakan oleh para biarawan, yang bertujuan untuk membersihkan manusia dari kotoran-kotoran bathin.
Disambut oleh tiang bendera tinggi dan bendera besarnya yang berkibar gagah diantara hembusan angin.  Bendera Bhutan dibagi menjadi dua bagian oleh garis diagonal dengan warna kuning yang melambangkan raja dan warna oranye yang melambangkan para Biksu.  Di tengahnya terdapat Naga putih yang di keempat kakinya menggengam permata yang berarti simbol kemakmuran dan kesempurnaan.

Berjalan melewati tiang bendera dengan 2 penjaga di posnya dan tibalah di pintu gerbang pertama di sebelah kiri, menurut guide pintu ini hanya boleh dilewati oleh raja dan tamu negara sehingga kita masuk melalui pintu berikutnya.  Pengamanan cukup ketat, tas harus melewati screening melalui alat dan kami melewati metal detector.  Saat ini, Dzong adalah kantor administratif pemerintahan di satu bagian dan bagian lainnya adalah wihara lengkap dengan tempat pendidikan dan penginapannya.  Dekorasi khas Bhutan sangat terasa di sini, dimulai dari lukisan dindingnya, rupang bodhisatwa pelindung dharma yang dibuat dengan kombinasi warna yang mencolok tetapi sangat halus pengerjaannya sehingga indah sekali mahakarya ini. 

Thimphu Dzong
Pengunjung tidak diizinkan untuk masuk ke bagian kantor administratif pemerintahan sehingga hanya dapat berfoto dan mengunjungi dharmasala dengan rupang Buddha, guru Padmasambhava dan Shabdrung Ngawang Namgyal.  Di dalam dharmasala tidak izinkan mengambil foto maupun video.  Ketika kami tiba, para lama kecil  sedang duduk dan membaca mantra, ada yang menggunakan tambur khas Vajrayana, ada yang memutar prayer wheel dan ada yang hanya membaca dari kitab.  Mereka duduk di depan tiang dan saling berhadapan sehingga kehadiran kita untuk bernamaskara sama sekali tidak mengganggu kekhikmatan mereka memanjatkan mantra.  Jika anda beruntung, anda akan bertemu dengan lama dan mereka dengan senang hati akan memberikan blessing kepada kita dengan cara menuang air berkah melalui teko khasnya dan kita meletakkan telapak kanan diatas telapak tangan kiri untuk menerimanya, diminum sedikit dan dibasuh di kepala. 

Saat ini, Thimphu adalah ibukota Bhutan.  Sebelumnya adalah Punaka.  Thimphu bersuhu lebih rendah dibandingkan dengan Punaka sehingga pada musim dingin, raja bertempat tinggal di Punaka sedangkan jika musim panas, raja bertempat tinggal di Thimphu. 

Shabdrung
Guru Padmasambhava
Guru Padmasambhava dan Shabdrung Ngawang Namgyal adalah dua orang yang sangat dihormati di Bhutan.  Masyarakat buddhis Bhutan mengganggap guru Padmasambhava sebagai Buddha kedua setelah Sakyamuni Buddha.  Padmasambhava artinya Ia yang terlahir dari Bunga Teratai, beliau dianggap membawa masuk pengaruh Agama Buddha Mazhab Tantra (Tantric) ke Bhutan dan Tibet pada abad ke 8. Di kedua tempat tersebut, ia lebih sering dikenal dengan sebutan Guru Rinpoche ("Guru Mulia").  Sedangkan Shabdrung adalah seorang lama Buddha Tibet yang mempersatukan Bhutan sebagai sebuah negara. Selain menyatukan berbagai penguasa yang saling berseteru pada tahun 1630-an, ia juga berupaya menciptakan identitas budaya Bhutan yang terpisah dari budaya Tibet.  Mudah saja membedakan rupang beliau dengan yang lain karena selalu ditampilkan dengan lama berjenggot tebal.



Satu hal yang ingin saya sampaikan adalah mungkin keyakinan atau pemahaman mereka berbeda dengan apa yang telah kita baca atau pahami tetapi jangan pernah menunjukkan ketidaksenangan anda apalagi berdebat tentang dokrin yang berlaku di tempat itu.  Selalu ingat akan peribahasa yang mengajarkan dimana tanah dipijak, disana langit dijunjung.  Dan satu lagi yang sangat sering saya katakan adalah hargailah perbedaan karena orang yang berbeda jalan dengan kita belum tentu tersesat. 

Paro, I'm coming (again)

Paro, I’m coming (again)
HSL19102018

Memasuki wilayah udara Bhutan
Pesawat bermanuver
Terbang jam 13.30 dengan Druk Air KB-401 dari Bandara Tribhuvan, Kathmandu menuju Bandara Paro, Bhutan yang katanya merupakan Bandara paling berbahaya di Dunia karena terletak di lembah diantara pegunungan tertinggi di Dunia, Himalaya. Konon hanya beberapa pilot yang memiliki izin untuk mendaratkan pesawat di bandara mini ini.  Memasuki wilayah udara Bhutan, akan terasa goncangan yang lumayan membuat jantung berdegup lebih kencang dan manuver yang dilakukan untuk terbang di antara gunung bersalju, dan ditutup dengan belokan tajam dengan posisi pesawat miring sampai 30° dan langsung mendarat mulus dan tanpa terasa hentakan. Memang Lubis…   

Sebuah tips kecil, jika anda terbang dari Kathmandu menuju Paro maka mintalah seat di di barisan kiri untuk menikmati indahnya jajaran pegunungan Himalaya yang bersalju abadi dan sebaliknya duduklah di kanan jika pulang dari Paro.  Saya tidak kaget ketika membaca sebuah artikel di Majalah Tashi Deleg yang memuat bahwa pelayanan di Bandara Tribhuvan adalah yang terburuk di planet ini.  Ribet, tidak efisien dan tentunya menjengkelkan, tapi tidak apalah, orang bijak mengatakan hanya orang yang merasakan pahitnya penderitaan lah yang dapat menikmati manisnya kebahagiaan. 

Paro Airport
Sejam kemudian, kami tiba di Bandara Paro, Bhutan.  Ini kedua kalinya kakiku menginjak bumi Bhutan yang diklaim sebagai Negara berpenduduk paling bahagia di dunia.  Bhutan tidak main-main dengan klaim ini, mereka membuktikannya bahwa predikat yang diberikan oleh PBB itu bukanlah sebuah slogan saja.  Pemandangan indah dan udara segar adalah yang pertama kali menyambut kita dengan ramahnya dan selanjutnya disambut oleh senyuman ramah dari Raja Jigme Khesar Namgyel Wangchuck dan Ratu Jetsun Pema.  Kami pun berfoto bersamanya.  (dibaca poster raja ).  Dilanjutkan dengan pengurusan dokumen imigrasi, Bhutan menerapkan sistem visa Online, jadi jika mengganti paspor yang sudah terdaftar maka paspor itu harus dibawa.  Bandara ini jauh dari kesan megah apalagi mewah.  Sederhana tapi tetap indah diwarnai dengan senyuman manis dari para petugas berkostum Gho (laki-laki) dan Kira (wanita).  Aura kebahagiaan berhamburan di tempat ini. Siap-siap lah menampung dan membawanya pulang sebagai oleh-oleh.

Thimphu, Ibukota Bhutan
Dari Bandara, kita langsung menuju ke Thimphu, Ibukota Bhutan.  Perjalanan darat kurang dari 50 km tetapi membutuhkan waktu 1,5 – 2 jam.  Jangan heran, karena selama di Bhutan bertemu dengan tanah datar adalah sebuah keajaiban.  Walaupun Bhutan disebut sebagai the land of the Dragon tetapi mereka tidak memiliki bangunan pencakar langit, maksimal hanya 7 tingkat sesuai aturan yang berlaku.  Masih banyak bangunan beratap seng dan anda pasti kagum melihat banyak bercak-bercak berwarna merah di atapnya.  Coba diterawang dengan lebih teliti, apa yang penyebab berwarna merah itu? Ooo ternyata Cabe, yah mereka sangat menyukai cabe dan menjemurnya di atap.  

Ema Datshi
Cobalah kuliner nasionalnya dalam Bahasa Dzongkha disebut Ema Datshi yang pasti mudah ditemukan dalam setiap sajian makan.  Ema berarti cabe (chili), Datshi berarti keju (cheese), jadi Ema Datshi berarti Chili Chese atau Cabe Keju.  Terdengar aneh dan tidak lazim tapi silakan dicoba, mungkin anda jatuh cinta kepadanya.  Dan jangan lupa, setiap foto sebutlah Ema Datshiii…


Sesampainya di Thimphu, kami mengunjungi Tashichho atau Thimphu Dzong.  Sayangnya Dzong itu sudah tutup pada jam 17.00. sehingga kami langsung melanjutkan untuk makan malam dan check in hotel.  Eh, belum selesai sampai di sini lho.  Ternyata hotel kita terletak di posisi strategis dan pusat perbelanjaan sehingga malam-malam kami bergentayangan di pusat perbelanjaan itu dan berhasil memburu buah-buah organik segar tanpa pestisida.   Kami berjaket ria karena suhu saat itu menyentuh angka 2 derajat.  Sempat mencoba Druk Beer, wah ternyata cukup keras karena beralkohol sampai 8%. Btw Druk berarti Dragon atau Naga.

Rabu, 11 April 2018

BOROBUDUR
Cipt. Hindarta

Borobudur nan jaya di malam trisuci waisaka
Purnama Sidhi Borobudur… 4x
Nun disana cahya terang menembus mendut
Menembus Prambanan siapakah gerangan…
Bersemedi di puncakmu… adakah kau dengar
Nyanyi nirvana bergema…
Menembus gelap… menembus kelam
menembus sgala penjuru
Borobudur… Borobudur… Borobudur… Borobudur…
Bulan Waisaka purnama Sidhi tiga peristiwa terjadi
Buddha lahir capai Sammasamadhi
Parinirvana… Parinirvana…
Borobudur… Borobudur… Borobudur… Borobudur…
Tetaplah Jaya 3x…



Senin, 04 Desember 2017

BPK Korean Sytle

BPK Korean Style @Ondo Grill Batak.

Masakan unik ini adalah masakan babi dengan gabungan dua citarasa yaitu Batak dan Korea.  Pemilik rumah makan ini adalah suami asli Sumut, sedangkan istri dari Korea.  Ternyata kolaborasi rasa dari kedua ini menciptakan rasa yang selalu mengundang saya untuk datang ke Ondo dan serasa ada yang kurang jika meninggalkan Medan tanpa ke Ondo yang terletak di jalan Pabrik Tenun ini.  Ohya. saya lupa memfoto minuman penutup yang sangat khas dari Ondo ini, yaitu minuman ramuan segar dengan dominasi kayu manis yang diyakini dapat menjaga kadar kolesterol darah.

Sebagaimana layaknya rumah makan khas Batak, Menu andalan Ondo terdiri dari makanan yang berbahan dasar daging babi, tentunya tidak direkomendasikan kepada sahabat muslim untuk makan di sini.   Menu unik yang sepertinya agak sulit ditemukan di resto sejenis adalah Arsik kaki babi yang tentunya rasanya sangat menantang, asam dan pedas mendominasi makanan ini tapi tidak akan terlupakan kenikmatannya yang diberikannya.

Arsik adalah salah satu masakan khas Tapanuli yang sangat populer.  Bumbu Arsik terdiri dari beberapa bahan yang sangat khas dari wilayah pegunungan Sumatera utara yaitu Andaliman (bumbu masak yang memiliki aroma jeruk yang lembut namun "menggigit" sehingga menimbulkan sensasi kelu atau mati rasa di lidah), asam cikala (buah kecombrang) dan juga bumbu Nusantara yang sangat spesial seperti lengkuas dan serai.

Cumi 

lalapan

Jengkol Anti Jengkel

Ikan Teri Kacang Tempe Pete 

Sayur Ondo

Sup Isi Tulang Babi 

Babi Panggang

Arsik kaki Babi

Babi Goreng

Senin, 18 Juli 2016

Parwati Soepangat : Srikandi Buddhis asal Solo.

(Dipresentasikan oleh Heru Suherman Lim di Konferensi Wanita Buddhis Internasional Sakyadhita di Yogyakarta, 23 Juni 2015)

Dr. Parwati Supangat
Apa yang langsung terpikir oleh kita jika mendengar nama “Parwati”.   Mungkin bagi penggemar sinetron berseri Mahadewa yang belakangan ini sangat populer akan langsung mengkaitkan Parwati dengan nama seorang dewi besar dalam Mitologi Hindu yang merupakan putri dari seorang raja gunung himalaya dan juga istri dari Mahadewa Siwa serta ibunda dari Ganesha.  Dalam bahasa Sansekerta, Parwati berarti “mata air pegunungan” yang dalam berbagai foto, dewi Parwati digambarkan memegang bunga teratai.  Tetapi dalam tulisan ini tidaklah membahas Parwati sebagai Dewi dalam mitologi Hindu tetapi seorang Srikandi Buddhis asal Solo yaitu Parwati yang terlahir di bumi Nusantara, Indonesia di Keraton Sala pada 1 Mei 1932 dari pasangan (Alm) Kanjeng Raden Tumenggung (KRT) Widyonagoro sebagai Bupati Keraton dengan (Alm) Raden Ajeng (RA) Soewiyah yang adalah seorang Guru Sekolah Keraton sehingga tentunya mau atau tidak, gelar RA melekat erat dalam dirinya.  Walaupun terlahir dengan darah biru dalam keluarga keraton tidaklah menciptakan sebuah tembok pemisah yang tebal dan tinggi yang membuat jarak antaranya dengan para sahabat.   Keramahannya selalu tercermin dengan senyum manis di wajahnya dan selalu duluan menyapa orang yang bertemu dengannya.

Parwati terlahir dalam keluarga Buddhis dan bervegetarian sejak kecil, ia masih ingat ketika masa kecilnya mereka dididik dan dilatih dengan budaya jawa yang luhur, mulai dari harus memakai kain jika masuk keraton, puasa senin kamis, makan hanya nasi putih tanpa lauk (mutih), nyerowot (hanya makan buah), yang kesemuanya itu bermakna dalam membina jasmani untuk mengendalikan keinginan.  Sebulan sekali didampingi oleh mbok emban (baby sitter) tidur di bawah pohon Sawo untuk melatih mental supaya tidak selalu mau enaknya saja dan juga dapat bersatu dengan alam sebagai tempat untuk hidup bersama. 

Minat membaca yang ditumbuhkan sejak kecil dari ibunya yang juga sangat suka membaca termasuk tulisan Ibu Kartini yang membuat jalan pemikiran ibu maju sekali dan tergerak dalam pemikiran emansipasi sehingga semua anaknya didik untuk maju.  Dengan berapi-api Parwati menyampaikan “Ibu sangat menginginkan anak perempuannya sekolah ke luar negeri dan lebih maju darinya.  Ibu mencari informasi dari teman-temannya bagaimana agar saya dapat bersekolah di luar negeri, tetapi teman-temannya malah mengejek dan mengatakan, gampang itu, kawinkan saja Parwati dengan orang departemen luar negeri, nanti juga akan ke luar negeri.  Tetapi dengan tegas ibu menolak dan menjawab dalam bahasa Belanda : Tidak, anak saya harus ke luar negeri sebagai Nona”.  Kekuatan doa seorang ibu sangat kuat dan luar biasa sehingga pada tahun 1958, Parwati berangkat ke Amerika sebagai seorang nona untuk mengambil Master setelah berhasil lulus tes-tes yang diadakan oleh Universitas Gajah Mada.

Parwati juga aktif dalam kegiatan di komunitas Teosofi yang mengantarkannya bertemu dengan suaminya Prof. Dr. Soepangat Soemarto, guru besar Institut Teknologi Bandung dan Dekan Fakultas Arsitektur Lansekap dan Teknologi Lingkungan Universitas Trisakti, Jakarta dan juga Tee Boan Ann yang kemudian menjadi biksu Ashin Jinarakkhita (1923-2002), dimana mereka bertiga memiliki prinsip hidup yang sama yaitu di antaranya vegetarian, harmonis dan kesederhanaan.  Parwati mengatakan bahwa setiap menjelang Waisak, ia selalu teringat dan mengenang Almarhum gurunya itu, yang merupakan putra Indonesia pertama yang menjadi biksu dan menjadi pelopor kebangkitan kembali agama Buddha di Indonesia sejak kejatuhan keprabuan Majapahit.  Tahun 1953, Tee Boan Ann pulalah yang berinisiatif dan berhasil mengadakan Waisak pertama di Candi Borobudur.  Saat itulah sebagai lonceng yang membangunkan agama Buddha yang tidur selama kurang lebih 500 tahun di bumi nusantara ini.

Srikandi Buddhis asal Solo demikian gelar yang diberikan oleh Maha Biksu Ashin Jinarakkhita kepadanya memang tidaklah berlebihan, dan dikuatkan oleh Maha Pandita Phoa Krisnaputra yang mengatakan bahwa Parwati adalah seorang sahabat yang jujur dan sederhana, walaupun badannya kecil tetapi nyalinya besar, belum tentu laki-laki punya keberanian seperti Parwati.  Selain itu menurutnya juga, Parwati adalah seorang yang cerdas, suka menari, pribadinya teguh, dan untuk membela kebenaran yang dia yakini, dia berani melawan arus.

  Selain aktif sebagai Maha Upasika Pandita, Parwati selalu aktif membantu tugas-tugas pelayanan biksu.  Menurutnya, apa yang dilakukan biksu juga dapat dilakukan pandita.  Bedanya biksu tinggal di wihara dan berselibat (tidak menikah), pandita adalah bapak atau ibu rumah tangga. “Di Buddhayana kami memiliki lebih dari 500 wihara, tetapi hanya ada sekitar 100 biksu, tentunya tidak cukup untuk melayani umat maka pandita dapat menggantikan tugas-tugas biksu, seperti memimpin upacara perkawinan atau pelepasan jenasah.”

Praktik keseharian dalam ucapan dan perbuatan yang berdasarkan Buddhisme selalu dilakoni oleh wanita yang selalu berkebaya lengkap dengan rambut disanggul dan hobi naik angkutan umum ini.  Menurutnya di Indonesia sangat perlu mendapat pencerahan yang berhubungan dengan androgoni yaitu kesadaran tentang hormon karena dalam setiap orang memiliki sisi maskulin dan feminim sekaligus sehingga pria dan wanita memiliki hak yang sama, hak untuk dihargai baik dalam bidang tenaga kerja, legislatif maupun teologi. 

Kesadaran akan kesetaraan Gender dan emansipasi perempuan selalu menjadi topik utama baik dalam tulisan maupun seminar oleh Parwati yang pernah menjabat sebagai Ketua Umum Wanita Buddhis Indonesia.  Dalam setiap event, ia menyakini bahwa kesamaan hak antara pria dan wanita sudah dilaksanakan jauh-jauh hari sebelumnya bahkan dari zaman Buddha dan Buddha menyetujui emansipasi. Hal ini terbukti dengan adanya penahbisan Prajapati Gautami, Ibu asuh Pangeran Siddhartha bersama 500 bangsawan menjadi Biksuni.  Sebelum Buddha mengajarkan Dharma, wanita selalu dianggap lebih rendah dan tidak berharga.  Orang sangat senang bila mendapat anak laki-laki, tetapi sedih dan malu bila mendapat anak perempuan. Begitu juga di Tiongkok, paling hebat kalau punya anak laki-laki.  Ratu Malika kecewa ketika melahirkan seorang putri.   Buddha menghibur, “Kenapa harus kecewa, bukankah wanita yang akan mendidik bangsa.  Bukankah ini hal yang mulia”.  Jadi Buddha termasuk tokoh yang mempelopori pemikiran emansipasi, juga masalah reformasi dan demokrasi.

Doktor lulusan Universitas Padjajaran tahun 1986 yang mempunyai hobi menari ini menjelaskan bahwa sedari kecil ketika masih di Keraton, ia sudah diajari tari bedhoyo, waktu itu saya belum mengerti makna-makna yang tersirat di dalamnya, hanya melakoni gerakan tangan, kaki dan kepala.  Saya sering menari ketika kuliah di Katholieke Universiteit Lueven, Belgia dan selalu mendapat sambutan antusias dari orang asing tetapi sedihnya malah kurang mendapat sambutan di tanah air.  Belakangan setelah mempelajari Buddhisme, saya baru mengerti bahwa semua itu adalah ajaran tentang pengendalian diri, mata harus selalu melihat ke pucuk hidung (top of the nose), tidak boleh plarak plirik dan siaga dalam meditative posture.  Kita harus sadar sepenuhnya akan setiap gerakan tangan yang ternyata adalah mudra-mudra yang terdapat diajarkan oleh Buddha seperti dhammacakra mudra (mudra pemutaran dharma), abhaya mudra (mudra tiada bahaya) dan mudra-mudra lainnya. 

Selain itu juga, ada sebuah kidung yang selalu dinyanyikan oleh mbok emban ketika malam tiba dan hendak tidur sehingga sampai saat ini pun masih lekat dalam ingatan yaitu “kidung penjaga malam” yang liriknya sebagai berikut :
Ana Kidung rumeksa ing wengi
Teguh ayu luputo ing lara
Luputa bilahi kabeh
Djin setan daban purin
Panaluan tau ana wani
Miwaba panggawe ala gunane wong luput
Geni atenahan tirto
Maling adok tan ana wani ing kami
Guno duduk pan sirna

Yang artinya adalah :
Ada suatu syair yang menjaga malam
Indah jauhkan dari sakit
Jauhkan dari segala bencana/derita
Jin dan setan tak ada yang mau
Makhluk jahat tak ada yang berani
Demikian juga perbuatan jahat, guna-guna akan hilang
Api maupun air
Pencuri jauh tak ada yang berani pada kamu
Semua guna-guna dan bahaya akan hilang.

           Para wanita seharusnya meningkatkan derajat wanita dari semua segi terutama dalam bidang ketuhanan.  Jadi bukan hanya tuntutan emansipasi fisik saja, juga bukan hanya mental tetapi segi spiritual karena manusia terdiri dari lima aspek yaitu fisik, indria, perasaan, pikiran, dan ketuhanan.  Jika hanya kepentingan fisik sangatlah tidak cukup tetapi harus sampai kepada tataran tertinggi yaitu Ketuhanan.  Bukan hanya demi bisa makan, beli baju dan kebutuhan fisik lainnya saja.   Hal yang penting juga adalah menjauhkan fanatisme berlebihan, setiap orang bisa belajar dan berlatih sampai dengan tingkat master dan kamu boleh pilih guru mana saja tetapi tidak boleh fanatik berlebihan, jangan menganggap ajarannya atau alirannya adalah yang tertinggi, terhebat dan terbenar karena jika sebenarnya ketika tiba pada tataran master tidak ada lagi perbedaan kelas-kelas begitu lagi karena tujuannya adalah satu yaitu pencapaian tingkat Ketuhanan.  Demikianlah ujarannya ketika dimintakan pesan untuk wanita buddhis Indonesia.

Selasa, 28 Juli 2015

Indah, ramah dan damai di Hida Takayama



Hida Kokubunji Temple
Foto Bersama Gadis berkimono
Sebuah kota tua yang masih banyak ditemui rumah tradisional jepang yang terbuat dari kayu, dinding kertas dan dipan yang tetap dihuni oleh pemiliknya.  Kota tua yang sangat bersih dan tenang ini seakan membuat detak jam melambat bahkan berhenti.  Di kota ini, hampir tidak pernah terlihat sepeda motor, yang ada hanya bis kota, mobil pribadi dan sepeda. Yah sepeda cukup banyak hilir mudik di kota tua ini.  Setelah check in di penginapan, kami berjalan kaki untuk mengeplorasi kota ini, cuman sayangnya kebanyakan obyek wisata sudah tutup pada jam  17 waktu setempat, kami hanya dapat berfoto di sekelilingnya, di taman dan di jembatan merah legendaris.  Wisatawan domestik maupun mancanegara dan gadis-gadis cantik berkimono sedang asik berselfie ria dan berfoto di sana sini, kami pun tidak mau kalah untuk ikut mengabadikan momen selama di sana.  Keesokan paginya, terdapat dua morning market di lokasi yang berbeda yaitu di Takayama Jinja dan Miyagawa, pasar yang kedua disebut lebih banyak menjual makanan yang siap dimakan dan souvenir-souvenir, sedangkan yang pertama lebih banyak menjual makanan yang harus diolah terlebih dahulu. 



Oh ya satu cerita menarik yang hampir terlupakan adalah Takayama adalah kota kelahiran boneka lucu berwarna merah yang tidak memiliki muka yang bernama Saru Bobo.  Saru berarti Kera dan Bobo adalah bayi, kurang lebih Saru Bobo berarti Anak Kera, konon dibuat oleh nenek dan diberikan kepada cucunya sebagai mainan.  Masyarakat Takayama mengatakan bahwa Saru Bobo dibuat dengan tidak memiliki muka dikarenakan ketika pemiliknya merasa sedih, maka mereka membayangkan wajah boneka itu juga ikutan sedih dan ketika mereka bahagia, Saru Bobo akan ikut bahagia.  Seiring dengan perkembangan zaman, saru bobo tidak lagi berwarna merah tetapi beraneka warna yang dapat dijadikan jimat dengan kegunaan sesuai warnanya, yang lebih lucu lagi adalah Saru Bobo dengan muka Doraemon dan saya menyebutnya dengan Emon Bobo.  Ohya, manjur tidak manjurnya jimat Saru Bobo adalah kembali kepada kita sendiri, percaya atau tidak yah terserah anda. HSL

Mantra Bodhisatwa Tara

Bodhisatwa Tara  "om tare tuttare ture soha" Bodhisatwa Tara, yang pada mulanya berasal dari air mata yang diteteskan oleh Bodh...