Kamis, 26 Juli 2012

HSL’s Noted (27 Jul 2012)


HSL’s Noted (27 Jul 2012)
herusuhermanlim@yahoo.com; www.herusuhermanlim.blogspot.com

Akhir minggu ini ada tiga peristiwa yang membuatku tersenyum dan bahagia.  Ketiga-tiganya berkaitan dengan anak-anak di sekolah.  Yang pertama adalah ketika kepala sekolah memberitahukan bahwa ada orang tua datang ke sekolah dan marah kepada guru Agama Buddha karena guru tersebut mengatakan kepada anaknya bahwa “Ibu lebih senang kalau kamu pintar tetapi juga sopan”.  Saya kaget “lho, apa yang salah dengan kata-kata guru itu?”. Ternyata redaksi orang tuanya kurang lebih seperti ini “Saya sebenarnya marah sekali dengan ibu karena sudah mengatakan sesuatu yang bertolak belakang dengan prinsip yang selalu mengejar kecerdasan intelektual saja”.  Dan orang tua itu melanjutkan “Kok masih ada guru yang kayak gini yah (yang masih peduli dengan budi pekerti)?”.  Saya pun lega mendengar kata-kata terakhir itu.  Terima kasih kepada guru-guru yang masih peduli dan senantiasa menjaga keseimbangan antara ilmu dengan budi pekerti.
Peristiwa kedua adalah keesokan harinya (26.07.12) ketika tiba di kantor bertepatan dengan waktu istirahatnya anak-anak.  Mereka sedang menikmati sarapan yang dibawa dari rumah.  Beberapa di antara mereka duduk di tangga dan tidak sadar sampai menutupi jalan naik.  Saya agak bingung ketika akan melewati mereka, saya berkata “maaf, sayang. Numpang lewat yah”.  Tanpa diduga, anak itu berkata “kami yang harus minta maaf sir, karena kami duduk di tangga dan menutupi jalan”.  Saya ucapkan terima kasih sambil tersenyum.  Ooo bahagianya.  Anak yang baik.
Yang ketiga adalah pada hari yang sama yaitu siang harinya pada saat makan siang di sebuah restoran yang dekat dengan kantor.  Saya berjalan kaki kurang lebih 10 menit di tengah siang yang sangat menyengat.  Saat memasuki ruangan restoran barulah dapat bernafas lega karena sedikit terbebas dari sengatan sang Mentari.  Setelah memesan makanan, saya duduk di meja paling ujung dan melihat ada anak-anak kami yang masih mengenakan seragam sedang makan bersama orangtuanya di meja yang berbeda.  Sehabis makan, saya mencuci tangan di wastafel yang lebar.  Sebelum selesai, datang seorang anak kami itu untuk mencuci tangan.   Karena dia kurang tinggi maka dia berusaha meraih tutup keran dan berhasil tetapi deras sekali airnya dan percikan airnya mengenai mukanya.  Saya membantunya untuk mengecilkan keran itu sehingga derasnya air pas untuk dia mencuci tangan dan tidak berpercikan ke mukanya.  Setelah selesai mencuci tangan, anak itu mengatakan “terima kasih Om”. 
Akhir minggu ini, saya bertemu dengan guru yang perhatian dan anak-anak yang sopan, berbudi pekerti.  Memang hal yang kecil dan sepertinya tidak berarti, tetapi menurut saya itu adalah sebuah kebiasaan yang baik dan terpuji. Memang keberhasilan sebuah pendidikan dan kehidupan bukanlah dinilai dari kecerdasan intelektual semata.  Happiness and Success with Love. :)

Tidak ada komentar:

Mantra Bodhisatwa Tara

Bodhisatwa Tara  "om tare tuttare ture soha" Bodhisatwa Tara, yang pada mulanya berasal dari air mata yang diteteskan oleh Bodh...