Senin, 18 Juli 2016

Parwati Soepangat : Srikandi Buddhis asal Solo.

(Dipresentasikan oleh Heru Suherman Lim di Konferensi Wanita Buddhis Internasional Sakyadhita di Yogyakarta, 23 Juni 2015)

Dr. Parwati Supangat
Apa yang langsung terpikir oleh kita jika mendengar nama “Parwati”.   Mungkin bagi penggemar sinetron berseri Mahadewa yang belakangan ini sangat populer akan langsung mengkaitkan Parwati dengan nama seorang dewi besar dalam Mitologi Hindu yang merupakan putri dari seorang raja gunung himalaya dan juga istri dari Mahadewa Siwa serta ibunda dari Ganesha.  Dalam bahasa Sansekerta, Parwati berarti “mata air pegunungan” yang dalam berbagai foto, dewi Parwati digambarkan memegang bunga teratai.  Tetapi dalam tulisan ini tidaklah membahas Parwati sebagai Dewi dalam mitologi Hindu tetapi seorang Srikandi Buddhis asal Solo yaitu Parwati yang terlahir di bumi Nusantara, Indonesia di Keraton Sala pada 1 Mei 1932 dari pasangan (Alm) Kanjeng Raden Tumenggung (KRT) Widyonagoro sebagai Bupati Keraton dengan (Alm) Raden Ajeng (RA) Soewiyah yang adalah seorang Guru Sekolah Keraton sehingga tentunya mau atau tidak, gelar RA melekat erat dalam dirinya.  Walaupun terlahir dengan darah biru dalam keluarga keraton tidaklah menciptakan sebuah tembok pemisah yang tebal dan tinggi yang membuat jarak antaranya dengan para sahabat.   Keramahannya selalu tercermin dengan senyum manis di wajahnya dan selalu duluan menyapa orang yang bertemu dengannya.

Parwati terlahir dalam keluarga Buddhis dan bervegetarian sejak kecil, ia masih ingat ketika masa kecilnya mereka dididik dan dilatih dengan budaya jawa yang luhur, mulai dari harus memakai kain jika masuk keraton, puasa senin kamis, makan hanya nasi putih tanpa lauk (mutih), nyerowot (hanya makan buah), yang kesemuanya itu bermakna dalam membina jasmani untuk mengendalikan keinginan.  Sebulan sekali didampingi oleh mbok emban (baby sitter) tidur di bawah pohon Sawo untuk melatih mental supaya tidak selalu mau enaknya saja dan juga dapat bersatu dengan alam sebagai tempat untuk hidup bersama. 

Minat membaca yang ditumbuhkan sejak kecil dari ibunya yang juga sangat suka membaca termasuk tulisan Ibu Kartini yang membuat jalan pemikiran ibu maju sekali dan tergerak dalam pemikiran emansipasi sehingga semua anaknya didik untuk maju.  Dengan berapi-api Parwati menyampaikan “Ibu sangat menginginkan anak perempuannya sekolah ke luar negeri dan lebih maju darinya.  Ibu mencari informasi dari teman-temannya bagaimana agar saya dapat bersekolah di luar negeri, tetapi teman-temannya malah mengejek dan mengatakan, gampang itu, kawinkan saja Parwati dengan orang departemen luar negeri, nanti juga akan ke luar negeri.  Tetapi dengan tegas ibu menolak dan menjawab dalam bahasa Belanda : Tidak, anak saya harus ke luar negeri sebagai Nona”.  Kekuatan doa seorang ibu sangat kuat dan luar biasa sehingga pada tahun 1958, Parwati berangkat ke Amerika sebagai seorang nona untuk mengambil Master setelah berhasil lulus tes-tes yang diadakan oleh Universitas Gajah Mada.

Parwati juga aktif dalam kegiatan di komunitas Teosofi yang mengantarkannya bertemu dengan suaminya Prof. Dr. Soepangat Soemarto, guru besar Institut Teknologi Bandung dan Dekan Fakultas Arsitektur Lansekap dan Teknologi Lingkungan Universitas Trisakti, Jakarta dan juga Tee Boan Ann yang kemudian menjadi biksu Ashin Jinarakkhita (1923-2002), dimana mereka bertiga memiliki prinsip hidup yang sama yaitu di antaranya vegetarian, harmonis dan kesederhanaan.  Parwati mengatakan bahwa setiap menjelang Waisak, ia selalu teringat dan mengenang Almarhum gurunya itu, yang merupakan putra Indonesia pertama yang menjadi biksu dan menjadi pelopor kebangkitan kembali agama Buddha di Indonesia sejak kejatuhan keprabuan Majapahit.  Tahun 1953, Tee Boan Ann pulalah yang berinisiatif dan berhasil mengadakan Waisak pertama di Candi Borobudur.  Saat itulah sebagai lonceng yang membangunkan agama Buddha yang tidur selama kurang lebih 500 tahun di bumi nusantara ini.

Srikandi Buddhis asal Solo demikian gelar yang diberikan oleh Maha Biksu Ashin Jinarakkhita kepadanya memang tidaklah berlebihan, dan dikuatkan oleh Maha Pandita Phoa Krisnaputra yang mengatakan bahwa Parwati adalah seorang sahabat yang jujur dan sederhana, walaupun badannya kecil tetapi nyalinya besar, belum tentu laki-laki punya keberanian seperti Parwati.  Selain itu menurutnya juga, Parwati adalah seorang yang cerdas, suka menari, pribadinya teguh, dan untuk membela kebenaran yang dia yakini, dia berani melawan arus.

  Selain aktif sebagai Maha Upasika Pandita, Parwati selalu aktif membantu tugas-tugas pelayanan biksu.  Menurutnya, apa yang dilakukan biksu juga dapat dilakukan pandita.  Bedanya biksu tinggal di wihara dan berselibat (tidak menikah), pandita adalah bapak atau ibu rumah tangga. “Di Buddhayana kami memiliki lebih dari 500 wihara, tetapi hanya ada sekitar 100 biksu, tentunya tidak cukup untuk melayani umat maka pandita dapat menggantikan tugas-tugas biksu, seperti memimpin upacara perkawinan atau pelepasan jenasah.”

Praktik keseharian dalam ucapan dan perbuatan yang berdasarkan Buddhisme selalu dilakoni oleh wanita yang selalu berkebaya lengkap dengan rambut disanggul dan hobi naik angkutan umum ini.  Menurutnya di Indonesia sangat perlu mendapat pencerahan yang berhubungan dengan androgoni yaitu kesadaran tentang hormon karena dalam setiap orang memiliki sisi maskulin dan feminim sekaligus sehingga pria dan wanita memiliki hak yang sama, hak untuk dihargai baik dalam bidang tenaga kerja, legislatif maupun teologi. 

Kesadaran akan kesetaraan Gender dan emansipasi perempuan selalu menjadi topik utama baik dalam tulisan maupun seminar oleh Parwati yang pernah menjabat sebagai Ketua Umum Wanita Buddhis Indonesia.  Dalam setiap event, ia menyakini bahwa kesamaan hak antara pria dan wanita sudah dilaksanakan jauh-jauh hari sebelumnya bahkan dari zaman Buddha dan Buddha menyetujui emansipasi. Hal ini terbukti dengan adanya penahbisan Prajapati Gautami, Ibu asuh Pangeran Siddhartha bersama 500 bangsawan menjadi Biksuni.  Sebelum Buddha mengajarkan Dharma, wanita selalu dianggap lebih rendah dan tidak berharga.  Orang sangat senang bila mendapat anak laki-laki, tetapi sedih dan malu bila mendapat anak perempuan. Begitu juga di Tiongkok, paling hebat kalau punya anak laki-laki.  Ratu Malika kecewa ketika melahirkan seorang putri.   Buddha menghibur, “Kenapa harus kecewa, bukankah wanita yang akan mendidik bangsa.  Bukankah ini hal yang mulia”.  Jadi Buddha termasuk tokoh yang mempelopori pemikiran emansipasi, juga masalah reformasi dan demokrasi.

Doktor lulusan Universitas Padjajaran tahun 1986 yang mempunyai hobi menari ini menjelaskan bahwa sedari kecil ketika masih di Keraton, ia sudah diajari tari bedhoyo, waktu itu saya belum mengerti makna-makna yang tersirat di dalamnya, hanya melakoni gerakan tangan, kaki dan kepala.  Saya sering menari ketika kuliah di Katholieke Universiteit Lueven, Belgia dan selalu mendapat sambutan antusias dari orang asing tetapi sedihnya malah kurang mendapat sambutan di tanah air.  Belakangan setelah mempelajari Buddhisme, saya baru mengerti bahwa semua itu adalah ajaran tentang pengendalian diri, mata harus selalu melihat ke pucuk hidung (top of the nose), tidak boleh plarak plirik dan siaga dalam meditative posture.  Kita harus sadar sepenuhnya akan setiap gerakan tangan yang ternyata adalah mudra-mudra yang terdapat diajarkan oleh Buddha seperti dhammacakra mudra (mudra pemutaran dharma), abhaya mudra (mudra tiada bahaya) dan mudra-mudra lainnya. 

Selain itu juga, ada sebuah kidung yang selalu dinyanyikan oleh mbok emban ketika malam tiba dan hendak tidur sehingga sampai saat ini pun masih lekat dalam ingatan yaitu “kidung penjaga malam” yang liriknya sebagai berikut :
Ana Kidung rumeksa ing wengi
Teguh ayu luputo ing lara
Luputa bilahi kabeh
Djin setan daban purin
Panaluan tau ana wani
Miwaba panggawe ala gunane wong luput
Geni atenahan tirto
Maling adok tan ana wani ing kami
Guno duduk pan sirna

Yang artinya adalah :
Ada suatu syair yang menjaga malam
Indah jauhkan dari sakit
Jauhkan dari segala bencana/derita
Jin dan setan tak ada yang mau
Makhluk jahat tak ada yang berani
Demikian juga perbuatan jahat, guna-guna akan hilang
Api maupun air
Pencuri jauh tak ada yang berani pada kamu
Semua guna-guna dan bahaya akan hilang.

           Para wanita seharusnya meningkatkan derajat wanita dari semua segi terutama dalam bidang ketuhanan.  Jadi bukan hanya tuntutan emansipasi fisik saja, juga bukan hanya mental tetapi segi spiritual karena manusia terdiri dari lima aspek yaitu fisik, indria, perasaan, pikiran, dan ketuhanan.  Jika hanya kepentingan fisik sangatlah tidak cukup tetapi harus sampai kepada tataran tertinggi yaitu Ketuhanan.  Bukan hanya demi bisa makan, beli baju dan kebutuhan fisik lainnya saja.   Hal yang penting juga adalah menjauhkan fanatisme berlebihan, setiap orang bisa belajar dan berlatih sampai dengan tingkat master dan kamu boleh pilih guru mana saja tetapi tidak boleh fanatik berlebihan, jangan menganggap ajarannya atau alirannya adalah yang tertinggi, terhebat dan terbenar karena jika sebenarnya ketika tiba pada tataran master tidak ada lagi perbedaan kelas-kelas begitu lagi karena tujuannya adalah satu yaitu pencapaian tingkat Ketuhanan.  Demikianlah ujarannya ketika dimintakan pesan untuk wanita buddhis Indonesia.

Selasa, 28 Juli 2015

Indah, ramah dan damai di Hida Takayama



Hida Kokubunji Temple
Foto Bersama Gadis berkimono
Sebuah kota tua yang masih banyak ditemui rumah tradisional jepang yang terbuat dari kayu, dinding kertas dan dipan yang tetap dihuni oleh pemiliknya.  Kota tua yang sangat bersih dan tenang ini seakan membuat detak jam melambat bahkan berhenti.  Di kota ini, hampir tidak pernah terlihat sepeda motor, yang ada hanya bis kota, mobil pribadi dan sepeda. Yah sepeda cukup banyak hilir mudik di kota tua ini.  Setelah check in di penginapan, kami berjalan kaki untuk mengeplorasi kota ini, cuman sayangnya kebanyakan obyek wisata sudah tutup pada jam  17 waktu setempat, kami hanya dapat berfoto di sekelilingnya, di taman dan di jembatan merah legendaris.  Wisatawan domestik maupun mancanegara dan gadis-gadis cantik berkimono sedang asik berselfie ria dan berfoto di sana sini, kami pun tidak mau kalah untuk ikut mengabadikan momen selama di sana.  Keesokan paginya, terdapat dua morning market di lokasi yang berbeda yaitu di Takayama Jinja dan Miyagawa, pasar yang kedua disebut lebih banyak menjual makanan yang siap dimakan dan souvenir-souvenir, sedangkan yang pertama lebih banyak menjual makanan yang harus diolah terlebih dahulu. 



Oh ya satu cerita menarik yang hampir terlupakan adalah Takayama adalah kota kelahiran boneka lucu berwarna merah yang tidak memiliki muka yang bernama Saru Bobo.  Saru berarti Kera dan Bobo adalah bayi, kurang lebih Saru Bobo berarti Anak Kera, konon dibuat oleh nenek dan diberikan kepada cucunya sebagai mainan.  Masyarakat Takayama mengatakan bahwa Saru Bobo dibuat dengan tidak memiliki muka dikarenakan ketika pemiliknya merasa sedih, maka mereka membayangkan wajah boneka itu juga ikutan sedih dan ketika mereka bahagia, Saru Bobo akan ikut bahagia.  Seiring dengan perkembangan zaman, saru bobo tidak lagi berwarna merah tetapi beraneka warna yang dapat dijadikan jimat dengan kegunaan sesuai warnanya, yang lebih lucu lagi adalah Saru Bobo dengan muka Doraemon dan saya menyebutnya dengan Emon Bobo.  Ohya, manjur tidak manjurnya jimat Saru Bobo adalah kembali kepada kita sendiri, percaya atau tidak yah terserah anda. HSL

Kamis, 26 Juli 2012

HSL’s Noted (27 Jul 2012)


HSL’s Noted (27 Jul 2012)
herusuhermanlim@yahoo.com; www.herusuhermanlim.blogspot.com

Akhir minggu ini ada tiga peristiwa yang membuatku tersenyum dan bahagia.  Ketiga-tiganya berkaitan dengan anak-anak di sekolah.  Yang pertama adalah ketika kepala sekolah memberitahukan bahwa ada orang tua datang ke sekolah dan marah kepada guru Agama Buddha karena guru tersebut mengatakan kepada anaknya bahwa “Ibu lebih senang kalau kamu pintar tetapi juga sopan”.  Saya kaget “lho, apa yang salah dengan kata-kata guru itu?”. Ternyata redaksi orang tuanya kurang lebih seperti ini “Saya sebenarnya marah sekali dengan ibu karena sudah mengatakan sesuatu yang bertolak belakang dengan prinsip yang selalu mengejar kecerdasan intelektual saja”.  Dan orang tua itu melanjutkan “Kok masih ada guru yang kayak gini yah (yang masih peduli dengan budi pekerti)?”.  Saya pun lega mendengar kata-kata terakhir itu.  Terima kasih kepada guru-guru yang masih peduli dan senantiasa menjaga keseimbangan antara ilmu dengan budi pekerti.
Peristiwa kedua adalah keesokan harinya (26.07.12) ketika tiba di kantor bertepatan dengan waktu istirahatnya anak-anak.  Mereka sedang menikmati sarapan yang dibawa dari rumah.  Beberapa di antara mereka duduk di tangga dan tidak sadar sampai menutupi jalan naik.  Saya agak bingung ketika akan melewati mereka, saya berkata “maaf, sayang. Numpang lewat yah”.  Tanpa diduga, anak itu berkata “kami yang harus minta maaf sir, karena kami duduk di tangga dan menutupi jalan”.  Saya ucapkan terima kasih sambil tersenyum.  Ooo bahagianya.  Anak yang baik.
Yang ketiga adalah pada hari yang sama yaitu siang harinya pada saat makan siang di sebuah restoran yang dekat dengan kantor.  Saya berjalan kaki kurang lebih 10 menit di tengah siang yang sangat menyengat.  Saat memasuki ruangan restoran barulah dapat bernafas lega karena sedikit terbebas dari sengatan sang Mentari.  Setelah memesan makanan, saya duduk di meja paling ujung dan melihat ada anak-anak kami yang masih mengenakan seragam sedang makan bersama orangtuanya di meja yang berbeda.  Sehabis makan, saya mencuci tangan di wastafel yang lebar.  Sebelum selesai, datang seorang anak kami itu untuk mencuci tangan.   Karena dia kurang tinggi maka dia berusaha meraih tutup keran dan berhasil tetapi deras sekali airnya dan percikan airnya mengenai mukanya.  Saya membantunya untuk mengecilkan keran itu sehingga derasnya air pas untuk dia mencuci tangan dan tidak berpercikan ke mukanya.  Setelah selesai mencuci tangan, anak itu mengatakan “terima kasih Om”. 
Akhir minggu ini, saya bertemu dengan guru yang perhatian dan anak-anak yang sopan, berbudi pekerti.  Memang hal yang kecil dan sepertinya tidak berarti, tetapi menurut saya itu adalah sebuah kebiasaan yang baik dan terpuji. Memang keberhasilan sebuah pendidikan dan kehidupan bukanlah dinilai dari kecerdasan intelektual semata.  Happiness and Success with Love. :)

Selasa, 17 April 2012

Shao Lin Temple yang tak dapat dilukiskan dengan kata-kata.


Belum pernah terbayang olehku untuk dapat berkunjung ke Shaolin Temple secara langsung.  Ternyata hari ini 18 Maret 2012 saya dapat berdiri di depan gerbang Shaolin Temple.  Mimpi menjadi kenyataan.  Dari saya kecil sudah sering menonton film tentang kebesaran dan kehebatan Shaolin.  Hampir tidak pernah melewatkan film yang mengisahkan tentang shaolin.  Begitu juga film terbaru tentang Shaolin yang diperankan oleh Andi Lau.  Menambah keinginan mengebu untuk dapat melihat Shaolin secara langsung dengan mata dan kepala sendiri.  Yah, hari ini saya dan istri benar-benar berfoto di depan gerbang yang di atas tertulis “Shao Lin Se” (Shaolin Temple).  Bangga sekaligus bahagia.  Dapat melihat secara langsung sebuah temple legendaris yang konon didirikan pada jaman dinasti Wei Utara tahun 495M.  Dan yang terpenting adalah momentum kehadiran Bodhidharma, Dat Mo Zhu She 30 tahun setelah didirikannya.  Momentum berdirinya agama Buddha di dataran Tiongkok.  

Sesampainya di shaolin, kita langsung mengantri untuk menonton Kungfu Show yang terakhir pada hari itu.  Ruangan nonton juga ditata dengan baik dan nyaman.  Para biksu memang melatih fisik dengan baik, terbukti dari show-show yang dipertontonkan kepada kita seperti bermain toya, golok panjang (wan tau), menbengkokkan toya berkepala pisau dengan leher, mematahkan batang besi dengan kepala, kelenturan tubuh yang luar biasa dan masih banyak atraksi menarik lainnya.  Selesai menonton show sekitar 30 menit kita pun berjalan menuju gerbang Shaolin Temple.  Rombongan berfoto dengan gaya-gaya jurus Shaolin yang entah kapan dipelajarinya, hehehe (maaf yah sahabatku).  Memasuki gerbang disambut oleh dua rupang raksasa dengan tampang seram dan galak.  Ternyata melangkah memasuki kuil ada aturannya lho.  Di tengah pintu biasanya terdapat palang yang tingginya 20-30 cm.  Palang itu tidak boleh diinjak dan harus dilangkahi dengan kaki kiri.  Setelah melangkah ke dalam terlihat lagi 4 rupang raja langit raksasa ( fung thiau ie sun ).  Di atas pintu tertulis “Kuil yang tiada duanya di Dunia”.  Jika anda menonton film Shaolin Andy Lau.  Anda akan langsung tahu maksud saya.  Ketika Andy Lau yang memerankan seorang Jendral yang mengejar musuhnya sampai ke dalam kuil dan dengan arogannya menuliskan “CUMAN SEGINI” dengan cat merah di bawah tulisan “Kuil yang tiada duanya di Dunia”.  Yang kelak setelah Andy Lau tercerahkan dan menjadi biksu. Ia sendiri yang membersihkan tulisan itu.  Nonton ulang deh filmnya, mencerahkan banget lho.  TOP.

Nah, satu lagi neh, di film diceritakan Andy Lau terlontar karena serangan bom, terlempar dari atas bangunan dan mati tepat di rangkupan kedua telapak tangan Buddha besar.  Ternyata Buddha besar itu tidak pernah ada di Shaolin dan hanya ada di film saja.  Buddha yang ada di Dharmasala Shaolin tidaklah sebesar di film itu.  Anda ingat ga dengan tukang masak kuil yang diperankan oleh Jacky Chan.  Di kuil, memang ada tukang masaknya juga.  Dan satu hal yang mengagumkan adalah setiap pekerjaan yang dilakukan di dalam kuil baik itu memasak, menyapu, berlatih kungfu dan lainnya.  Menurut mereka, setiap pekerjaan itu adalah berlatih kungfu.  Berlatih kungfu adalah melatih diri, melatih pikiran dan melatih hati.  Jadi tidak ada satupun hal yang dilakukan di dalam kuil yang bukan melatih diri, hati dan pikiran.  Ajaran Buddha memang luar biasa.  Jadi ketika saya merangkum dalam bentuk kesimpulan dari beberapa pelajaran yang didapat dari Shaolin Temple ini adalah jangan merasa dan menyepelekan bahwa pekerjaan kita adalah pekerjaan rendahan dan tidak bermanfaat.  Setiap pekerjaan ada nilainya dan saling melengkapi.  Dan tidak kalah pentingnya yaitu setiap melakukan pekerjaan adalah sama juga dengan sedang melatih diri, pikiran dan hati.  Maka selalu berperhatian penuh lah pada saat mengerjakan apa saja. 



Eit, hampir lupa diceritakan sebuah event yang tak akan terlupakan oleh para rombongan Buddhasubhasita China Tour adalah setelah mengunjungi Shaolin Temple, kita diajak makan malam ala vegetarian dan acara ditutup dengan show optional yaitu Shaolin Zen Musical Show.  Wihhh sebuah pertunjukan yang sangat luar biasa, panggungnya adalah sebuah lembah gunung yang sudah ditata demikian apiknya dengan soundsystem, lighting dan slide shownya.  Minimal 200 artis menampilkan kelihaiannya dan kebolehannya.  Sayangnya hampir semua dari kita tidak dapat konsentrasi penuh pada saat menonton pertunjukan luar biasa itu.  Heran yah napa show bagus tapi ga konsen nontonnya.  Nah, saya kasih tahu jawabannya.  Kita tidak dapat konsen menonton dan berharap show segera selesai bukan karena shownya membosankan tetapi karena dinginnya luarrrr biasaaaaa. Ketika angin bertiuppp serrrrrr, dinginnya menerobos menusuk ke dalam tulang. Padahal kita sudah menyewa jaket eskimo yang beratnya amsiong.  Itu saja masih tembus.  Benar-benar luar biasa.  Tidak percaya?? Silakan kunjungi Shaolin temple dan tonton Shaolin Zen Musical Shownya.  Happiness & Success with Love. HSL

Kai feng ada Judge Bao, Indonesia kapan yah?



Pagi buta jam 04.30 WIB tanggal 16 Maret 2012 berkumpul di airport Soekarno Hatta untuk memulai perjalanan Buddhasubhasita China Tour 11 hari bersama 15 orang sahabat.  Perjalanan dimulai dengan flight CI680 jam 06.30 menuju Hongkong dengan China Airlines untuk transit dan langsung diantar dengan bus menuju ke kota Shenzen kemudian dilanjutkan dengan penerbangan ke ibukota Henan yaitu kota Zhengzhou.   Dijemput oleh local guide Linda, langsung diantar untuk check-in di hotel dan beristirahat. Maka selesailah hari pertama perjalanan.

Tanggal 17 Maret 2012, dimulai dengan sarapan penuh semangat dan antusiasme karena akan mengunjungi beberapa obyek wisata yang pastinya sangat menarik.  Salah satunya adalah Lord Bao Memorial Temple di Kaifeng.  Ternyata kota Kaifeng benaran ada lho.  Dan Judge Bao juga beneran pernah bertugas di pengadilan di kota tersebut walau hanya sebentar saja menjabat di sana.  Pertama memasuki komplek temple terdapat sebuah prasasti yang menuliskan hierarki kepemimpinan para pejabat yang pernah bertugas.  Nama Bao Zheng (nama asli Judge Bao)terukir di sana dengan adanya bekas lekukan di batu hitam legam tersebut.  Lekukan terjadi bukan karena kebetulan tetapi disebabkan oleh seringnya nama beliau dielus oleh setiap pengunjung yang hadir untuk menghormati beliau.  Terdapat lukisan wajah asli beliau juga dan beberapa hasil karya Bao dalam bentuk puisi dan tulisan.  Di ruangan berikutnya terlihat patung lilin Judge Bao lengkap dengan Wang Chau, Ma Han, Zhang Long, Zhao Fu dan penasehat tuan Gong Sun.  Dapat dilihat juga peralatan untuk mengadili pesakitan yaitu tiga buah guilotin (alat penggal) yang sering kita nonton dalam serial Judge Bao.  Guilotin Naga untuk memenggal keluarga bangsawan, Guilotin Macan untuk menghukum pejabat korup dan yang terakhir adalah Guilotin Anjing untuk rakyat jelata.   Saya sempat mencari seorang tokoh idola yang sangat berperan dan aktif membantu Judge Bao dalam menegakkan keadilan dan memberantas pejabat jahat nan korup.  Yah, Zhan Zhao.  Dia kok ga ada yah dalam diorama tersebut.  Ternyata menurut si Linda, Zhan Zhao adalah tokoh hayalan yang tidak pernah ada dan hanya dimunculkan dalam film.   Selain terkenal akan kejujurannya, Bao Zheng juga adalah seorang anak yang sangat berbakti kepada orang tuanya.  Sebenarnya pada umur 29 tahun, beliau sudah lulus ujian kerajaan tingkat tertinggi dan diangkat sebagai pejabat kehakiman tetapi beliau mengundurkan diri pada saat itu karena ingin pulang kampung untuk merawat orang tuanya yang sudah tua dan lemah selama 10 tahun.  Setelah kematian orang tuanya, dia kembali untuk diangkat sebagai pejabat ketika beliau berumur 40 tahun.  Judge Bao hidup pada dinasti Song.  Sangat terkenal sebagai hakim dan negarawan dengan kejujuran yang luar biasa sehingga mendapat julukan Bao Qing Tian yang berarti Bao si langit biru.   Beliau meninggal pada tahun 1062 dan dimakamkan di Hefei.  

Add caption
Di ruangan lain, terdapat patung Bao Zheng dalam posisi duduk dengan muka sangat berwibawa, tangan kiri memegang pegangan kursi dan tangan kanan dikepalkan sebagai tanda ketegasan.   Banyak pengunjung dan warga masyarakat melakukan puja dengan memasang dupa, mempersembahkan kue, buah dan kertas-kertas sembahyang.   Saya dan para sahabat rombongan tour juga melakukan puja dengan memasang dupa dan memasukkan dana ke kotak dana.  Selesai memasang dupa, saya berdiri di samping dan berpikir “Andaikan Judge Bao terlahir di Indonesia dan menjabat di Tanah Air”. Masyarakat Indonesia pasti akan hidup dengan damai, tenang dan aman.  Indonesia pasti akan maju karena kekayaan alam dan negara tidak digerogoti oleh pejabat yang hanya rajin, peduli dan bertanggung jawab untuk memperkaya diri dan kelompoknya.  Saya juga membayangkan semoga suatu hari guilotin macan akan berfungsi dengan baik di Tanah Air.  Hormat dan Salut untuk Judge Bao yang sangat mencintai rakyatnya dengan membuka pintu belakang sebagai akses langsung bagi para rakyat yang ingin mencari keadilan tanpa melalui birokrasi yang bertele-tele dan tentunya mahal.   Happiness & Success with Love. HSL

Senin, 20 Februari 2012

In Love With You

Just a gentle whisper
told me that you're gone
leaving only memmories where did we go wrong
I Couldn't Find The Words Then So Let Me Say Them Now
I'm Still In Love With You

Tell Me That You Love Me, Tell Me That You Care
Tell Me That You Need Me And I'll Be There
I'll Be There Waitin'...
I Will Always Love You, I Will Always Stay True
No One Else Will Love You Like I Do

Come To Me Now
I Will Never Leave You, I Will Stay Here With You
Through The Good And Bad I Will Stand True
I'm In Love With You...

Now We're Here Together, Yesterday Has Past
Life Is Just Beginning, Close To You At Last
And I Promise To You, I Will Always Be There
I Give My All To You
Living Life Without You
Is More Than I Can Bear...
Hold Me Close
Forever...
And I'll Be There...
I'll Be There For You
I Will Always Love You, I Will Always Stay True
No One Else Will Love You Like I Do
This I Promise
I Will Never Leave You, I Will Stay Here With You
Through The Good And Bad I Will Stand True
Hold Me Closer
Our Love Is Forever, Holding Us Together
Nothing In This World Can Stop Us Now
Love Has Found...
Love Has Found...
A Way...

I'm In Love...
I'm So In Love...
Ooh, I'm In Love...
Yes, I'm In Love...
Ooh... Ha......
I'm So In Love
With You

- Regine Velasquez & Jacky Cheung -