Senin, 18 Juli 2016

Parwati Soepangat : Srikandi Buddhis asal Solo.

(Dipresentasikan oleh Heru Suherman Lim di Konferensi Wanita Buddhis Internasional Sakyadhita di Yogyakarta, 23 Juni 2015)

Dr. Parwati Supangat
Apa yang langsung terpikir oleh kita jika mendengar nama “Parwati”.   Mungkin bagi penggemar sinetron berseri Mahadewa yang belakangan ini sangat populer akan langsung mengkaitkan Parwati dengan nama seorang dewi besar dalam Mitologi Hindu yang merupakan putri dari seorang raja gunung himalaya dan juga istri dari Mahadewa Siwa serta ibunda dari Ganesha.  Dalam bahasa Sansekerta, Parwati berarti “mata air pegunungan” yang dalam berbagai foto, dewi Parwati digambarkan memegang bunga teratai.  Tetapi dalam tulisan ini tidaklah membahas Parwati sebagai Dewi dalam mitologi Hindu tetapi seorang Srikandi Buddhis asal Solo yaitu Parwati yang terlahir di bumi Nusantara, Indonesia di Keraton Sala pada 1 Mei 1932 dari pasangan (Alm) Kanjeng Raden Tumenggung (KRT) Widyonagoro sebagai Bupati Keraton dengan (Alm) Raden Ajeng (RA) Soewiyah yang adalah seorang Guru Sekolah Keraton sehingga tentunya mau atau tidak, gelar RA melekat erat dalam dirinya.  Walaupun terlahir dengan darah biru dalam keluarga keraton tidaklah menciptakan sebuah tembok pemisah yang tebal dan tinggi yang membuat jarak antaranya dengan para sahabat.   Keramahannya selalu tercermin dengan senyum manis di wajahnya dan selalu duluan menyapa orang yang bertemu dengannya.

Parwati terlahir dalam keluarga Buddhis dan bervegetarian sejak kecil, ia masih ingat ketika masa kecilnya mereka dididik dan dilatih dengan budaya jawa yang luhur, mulai dari harus memakai kain jika masuk keraton, puasa senin kamis, makan hanya nasi putih tanpa lauk (mutih), nyerowot (hanya makan buah), yang kesemuanya itu bermakna dalam membina jasmani untuk mengendalikan keinginan.  Sebulan sekali didampingi oleh mbok emban (baby sitter) tidur di bawah pohon Sawo untuk melatih mental supaya tidak selalu mau enaknya saja dan juga dapat bersatu dengan alam sebagai tempat untuk hidup bersama. 

Minat membaca yang ditumbuhkan sejak kecil dari ibunya yang juga sangat suka membaca termasuk tulisan Ibu Kartini yang membuat jalan pemikiran ibu maju sekali dan tergerak dalam pemikiran emansipasi sehingga semua anaknya didik untuk maju.  Dengan berapi-api Parwati menyampaikan “Ibu sangat menginginkan anak perempuannya sekolah ke luar negeri dan lebih maju darinya.  Ibu mencari informasi dari teman-temannya bagaimana agar saya dapat bersekolah di luar negeri, tetapi teman-temannya malah mengejek dan mengatakan, gampang itu, kawinkan saja Parwati dengan orang departemen luar negeri, nanti juga akan ke luar negeri.  Tetapi dengan tegas ibu menolak dan menjawab dalam bahasa Belanda : Tidak, anak saya harus ke luar negeri sebagai Nona”.  Kekuatan doa seorang ibu sangat kuat dan luar biasa sehingga pada tahun 1958, Parwati berangkat ke Amerika sebagai seorang nona untuk mengambil Master setelah berhasil lulus tes-tes yang diadakan oleh Universitas Gajah Mada.

Parwati juga aktif dalam kegiatan di komunitas Teosofi yang mengantarkannya bertemu dengan suaminya Prof. Dr. Soepangat Soemarto, guru besar Institut Teknologi Bandung dan Dekan Fakultas Arsitektur Lansekap dan Teknologi Lingkungan Universitas Trisakti, Jakarta dan juga Tee Boan Ann yang kemudian menjadi biksu Ashin Jinarakkhita (1923-2002), dimana mereka bertiga memiliki prinsip hidup yang sama yaitu di antaranya vegetarian, harmonis dan kesederhanaan.  Parwati mengatakan bahwa setiap menjelang Waisak, ia selalu teringat dan mengenang Almarhum gurunya itu, yang merupakan putra Indonesia pertama yang menjadi biksu dan menjadi pelopor kebangkitan kembali agama Buddha di Indonesia sejak kejatuhan keprabuan Majapahit.  Tahun 1953, Tee Boan Ann pulalah yang berinisiatif dan berhasil mengadakan Waisak pertama di Candi Borobudur.  Saat itulah sebagai lonceng yang membangunkan agama Buddha yang tidur selama kurang lebih 500 tahun di bumi nusantara ini.

Srikandi Buddhis asal Solo demikian gelar yang diberikan oleh Maha Biksu Ashin Jinarakkhita kepadanya memang tidaklah berlebihan, dan dikuatkan oleh Maha Pandita Phoa Krisnaputra yang mengatakan bahwa Parwati adalah seorang sahabat yang jujur dan sederhana, walaupun badannya kecil tetapi nyalinya besar, belum tentu laki-laki punya keberanian seperti Parwati.  Selain itu menurutnya juga, Parwati adalah seorang yang cerdas, suka menari, pribadinya teguh, dan untuk membela kebenaran yang dia yakini, dia berani melawan arus.

  Selain aktif sebagai Maha Upasika Pandita, Parwati selalu aktif membantu tugas-tugas pelayanan biksu.  Menurutnya, apa yang dilakukan biksu juga dapat dilakukan pandita.  Bedanya biksu tinggal di wihara dan berselibat (tidak menikah), pandita adalah bapak atau ibu rumah tangga. “Di Buddhayana kami memiliki lebih dari 500 wihara, tetapi hanya ada sekitar 100 biksu, tentunya tidak cukup untuk melayani umat maka pandita dapat menggantikan tugas-tugas biksu, seperti memimpin upacara perkawinan atau pelepasan jenasah.”

Praktik keseharian dalam ucapan dan perbuatan yang berdasarkan Buddhisme selalu dilakoni oleh wanita yang selalu berkebaya lengkap dengan rambut disanggul dan hobi naik angkutan umum ini.  Menurutnya di Indonesia sangat perlu mendapat pencerahan yang berhubungan dengan androgoni yaitu kesadaran tentang hormon karena dalam setiap orang memiliki sisi maskulin dan feminim sekaligus sehingga pria dan wanita memiliki hak yang sama, hak untuk dihargai baik dalam bidang tenaga kerja, legislatif maupun teologi. 

Kesadaran akan kesetaraan Gender dan emansipasi perempuan selalu menjadi topik utama baik dalam tulisan maupun seminar oleh Parwati yang pernah menjabat sebagai Ketua Umum Wanita Buddhis Indonesia.  Dalam setiap event, ia menyakini bahwa kesamaan hak antara pria dan wanita sudah dilaksanakan jauh-jauh hari sebelumnya bahkan dari zaman Buddha dan Buddha menyetujui emansipasi. Hal ini terbukti dengan adanya penahbisan Prajapati Gautami, Ibu asuh Pangeran Siddhartha bersama 500 bangsawan menjadi Biksuni.  Sebelum Buddha mengajarkan Dharma, wanita selalu dianggap lebih rendah dan tidak berharga.  Orang sangat senang bila mendapat anak laki-laki, tetapi sedih dan malu bila mendapat anak perempuan. Begitu juga di Tiongkok, paling hebat kalau punya anak laki-laki.  Ratu Malika kecewa ketika melahirkan seorang putri.   Buddha menghibur, “Kenapa harus kecewa, bukankah wanita yang akan mendidik bangsa.  Bukankah ini hal yang mulia”.  Jadi Buddha termasuk tokoh yang mempelopori pemikiran emansipasi, juga masalah reformasi dan demokrasi.

Doktor lulusan Universitas Padjajaran tahun 1986 yang mempunyai hobi menari ini menjelaskan bahwa sedari kecil ketika masih di Keraton, ia sudah diajari tari bedhoyo, waktu itu saya belum mengerti makna-makna yang tersirat di dalamnya, hanya melakoni gerakan tangan, kaki dan kepala.  Saya sering menari ketika kuliah di Katholieke Universiteit Lueven, Belgia dan selalu mendapat sambutan antusias dari orang asing tetapi sedihnya malah kurang mendapat sambutan di tanah air.  Belakangan setelah mempelajari Buddhisme, saya baru mengerti bahwa semua itu adalah ajaran tentang pengendalian diri, mata harus selalu melihat ke pucuk hidung (top of the nose), tidak boleh plarak plirik dan siaga dalam meditative posture.  Kita harus sadar sepenuhnya akan setiap gerakan tangan yang ternyata adalah mudra-mudra yang terdapat diajarkan oleh Buddha seperti dhammacakra mudra (mudra pemutaran dharma), abhaya mudra (mudra tiada bahaya) dan mudra-mudra lainnya. 

Selain itu juga, ada sebuah kidung yang selalu dinyanyikan oleh mbok emban ketika malam tiba dan hendak tidur sehingga sampai saat ini pun masih lekat dalam ingatan yaitu “kidung penjaga malam” yang liriknya sebagai berikut :
Ana Kidung rumeksa ing wengi
Teguh ayu luputo ing lara
Luputa bilahi kabeh
Djin setan daban purin
Panaluan tau ana wani
Miwaba panggawe ala gunane wong luput
Geni atenahan tirto
Maling adok tan ana wani ing kami
Guno duduk pan sirna

Yang artinya adalah :
Ada suatu syair yang menjaga malam
Indah jauhkan dari sakit
Jauhkan dari segala bencana/derita
Jin dan setan tak ada yang mau
Makhluk jahat tak ada yang berani
Demikian juga perbuatan jahat, guna-guna akan hilang
Api maupun air
Pencuri jauh tak ada yang berani pada kamu
Semua guna-guna dan bahaya akan hilang.

           Para wanita seharusnya meningkatkan derajat wanita dari semua segi terutama dalam bidang ketuhanan.  Jadi bukan hanya tuntutan emansipasi fisik saja, juga bukan hanya mental tetapi segi spiritual karena manusia terdiri dari lima aspek yaitu fisik, indria, perasaan, pikiran, dan ketuhanan.  Jika hanya kepentingan fisik sangatlah tidak cukup tetapi harus sampai kepada tataran tertinggi yaitu Ketuhanan.  Bukan hanya demi bisa makan, beli baju dan kebutuhan fisik lainnya saja.   Hal yang penting juga adalah menjauhkan fanatisme berlebihan, setiap orang bisa belajar dan berlatih sampai dengan tingkat master dan kamu boleh pilih guru mana saja tetapi tidak boleh fanatik berlebihan, jangan menganggap ajarannya atau alirannya adalah yang tertinggi, terhebat dan terbenar karena jika sebenarnya ketika tiba pada tataran master tidak ada lagi perbedaan kelas-kelas begitu lagi karena tujuannya adalah satu yaitu pencapaian tingkat Ketuhanan.  Demikianlah ujarannya ketika dimintakan pesan untuk wanita buddhis Indonesia.

Tidak ada komentar:

Mantra Bodhisatwa Tara

Bodhisatwa Tara  "om tare tuttare ture soha" Bodhisatwa Tara, yang pada mulanya berasal dari air mata yang diteteskan oleh Bodh...